Akidah Islam Melihat Hujan

  • Whatsapp

STARNEWS.ID – Hujan merupakan salah satu perkara terpenting bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Ia merupakan sebuah prasyarat bagi kelanjutan aktivitas di suatu tempat, tidak hanya manusia, tapi hampir semua makhluk. Lantas bagaimanakah akidah seorang muslim dalam melihat hujan yang kami lansir dari hidayatullah.com, berdasarkan Alquran dan Hadits.

Dalam al-Quran Surat Az-Zukhruf, Allah memberikan informasi bahwa hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam “ukuran tertentu”.

“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS: Az-Zukhruf : 11)

Datangnya Hujan adalah Berkah, bukan Musibah

Allah telah menurunkan hujan sebagai rahmat di saat diperlukan oleh seluruh makhluk. Allah pula menurunkan hujan agar banyak orang mendapat kegembiraan setelah bertahun-tahun hamper putus asa menunggu. Karena itu, al-Quran menyebut hujan sebagai rahmat dan berkah, bukan musibah.

“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS: Asy-Syuura [41] : 28).

Dengan mengirim hujan-lah, Allah menyuburkan tanaman-tanaman yang dibutuhkan manusia dan semua mahkluk yang hidup di bumi, menumbukan pepohonan dan buah-buahan dan biji tanaman yang dibutuhkan manusia.

“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS: Qaaf (50) : 9).

Yang dimaksud keberkahan di sini adalah turunnya hujan, lebih banyak melahirkan kebaikan (manfaat), daripada mudharatnya (keburukan).

Di antara keberkahan dan manfaat hujan adalah manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan sangat memerlukannya untuk keberlangsungan hidup, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?.” (QS. Al Anbiya’ (21) : 30).

Al Baghowi menafsirkan ayat ini, “Kami menghidupkan segala sesuatu menjadi hidup dengan air yang turun dari langit yaitu menghidupkan hewan, tanaman dan pepohonan. Air hujan inilah sebab hidupnya segala sesuatu.”

Akhlak Nabi ketika Hujan

Sikap seorang mukmin dan Muslim atas masalah ini adalah menerima, menikmati dan bersyukur. Adalah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam sebaik-baik manusia yang pantas kita tiru akhlaknya. Termasuk bagaimana beliau menghormati datangnya hujan.

Di kala melihat hujan beliau langsung berdoa: Allahumma Shayyiban Naafi’an (Ya Allah, jadikan hujan ini sebagai hujan yang membawa manfaat dan kebaikan.” (HR. Al-Buhari).

Rasulullah bahkan mengungkap rahasia, jika diantara turunnya hujan, di situ ada letak dan tanda-tanda dikabulkannya sebuah doa (mustajab).

“Carilah pengabulan doa pada saat bertemunya dua pasukan, pada saat iqamah shalat, dan saat turun hujan.” (HR. Al-Hakim).

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan.” Begitullah akhlak Nabi ketika turun hujan dari langit.

Soal hujan ini Allah Subhanahu Wata’ala pernah menjanjikan:

“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh berkah lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (QS: Qaaf [50]: 9-11)

Dan hujan itu dibutuhkan bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. (Lihat QS [32]: 27).

Allah Ta’ala telah mengatakan yang demikian dalam firman-Nya,“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat [41] : 39).

Menyikapi Musibah karena Hujan

Lantas bagaimana kita menyikapi hujan yang di sebagian tempat justru membawa musibah? Nah, jika soal ini, bukan Allah nya yang keliru, tapi manusialah yang bersalah.

Allah telah menurunkan penjelasannya dalam al-Quran bagaimana seharusnya kita memperlakukan alam dan seisinya dengan baik. Faktanya, kita (manusia) yang mengingkarinya. Kita salah mengelolanya dengan baik dan benar.

Realitas menunjukkan, para penguasa memotong pohon dan menghabiskan lahan-lahan resapan air, membangun bangunan-bangunan yang tidak memperhatikan dampaknya pada lingkungan. Para penguasa memberinya ijin serampangan tanpa memikirkan akibat dari kebijakan yang dikeluarkannya, dan juga masyarakat yang membuang sampah seenaknya ke sungai-sungai dan saluran air.

Sebuah contoh kecil, negeri-negeri yang saat ini memimpin dunia dengan teknologi, ekonomi, politik dan militernya rata-rata berada di belahan bumi utara, negeri subtropis. Jarang mendapat sinar matahari sebanyak yang kita punya, malam dan siang mereka sering tidak seimbang.

Negeri lain di Afrika yang berada sama dengan kita di jalur katulistiwa, mereka rata-rata sangat sedikit menerima hujan, sehingga sedikit pula jenis-jenis tanaman yang tumbuh di negerinya. Pemandangan ini berbeda dengan di tempat kita, di mana curah hujan dan keaneka ragaman hayatinya luar biasa dikaruniakan Allah. Tapi apa yangterjadi? Kita salah mengelolanya. 

Karunia ini tidak kita syukuri dan kita kelola dengan benar.

Di negeri yang siang dan malamnya seimbang ini, musim kering dan musim hujannya-pun (dulunya) seimbang – kita malah tidak bisa mencukupi kebutuhan kita sendiri. Semua kebutuhan justru impor! Dari beras, gandum, susu, daging, telur dan masih banyak lagi.

Hujan yang harusnya jadi anugrah para petani dan menghidupkan semua jenis tumbuh-tumbuhan untuk kebutuhan kita, justru menjadi mala petaka dan musibah.

Allah ta’ala telah berfirman, artinya:“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS: as-Syura (42): 30)

Ummu Salamah ra menceritakan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Jika timbul maksiat pada umatku, maka Allah akan menyebarkan adzab kepada mereka. Aku (Ummu Salamah) berkata, “Wahai Rasulullah! Apakah tidak ada waktu itu orang-orang shaleh?” Beliau menjawab, “Ada.” Aku bertanya lagi, “Apa yang Allah akan perbuat kepada mereka?”

Beliau menjawab, “Allah akan menimpakan kepada mereka adzab sebagaimana ditimpakan kepada orang-orang yang melakukan maksiat, kemudian mereka akan mendapatkan ampunan dan keridhaan dari Rabb-nya.” (HR Ahmad). (Star1/int)

Pos terkait