Biaya Pembuatan Nilai, Murid SDN 030 Binuang, Polman Disuruh Bayar Rp1,5 Juta

Suasana sekolah SDN 030 Binuang, Polman. (foto alim/starnews.id)

STARNEWS.ID, POLMAN – Salah seorang murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) 030 Kelurahan Ammasangan, Kecamatan Binuang, Polman mengaku dimintai uang Rp1,5 juta untuk keperluan pembuatan nilai.

Pengakuan ini diungkapkan orangtua murid bernama Ita Haidar (39), yang ditemui di rumahnya, Kamis, (11/6/2020).

Bacaan Lainnya

Uang tersebut diminta Kepala Sekolah SDN 030 sebagai ‘uang terima kasih’ untuk diberikan pada wali kelas yang membantu membuatkan nilai murid bernama Andi Ahmad Dani.

Pasalnya anak tersebut, sudah dua kali tinggal kelas mulai dari kelas empat. Namun pihak sekolah, tetap melaporkan di dapodik kalau murid tersebut naik kelas, dan berhak ikut ujian akhir.

“Sewaktu anak saya duduk di kelas empat, pada saat kenaikan kelas, saya disampaikan tidak dinaikan di kelas lima karena masih bodoh. Lalu sekarang, kepala sekolah tiba-tiba bilang, nama anak sudah terdaftar đi dapodik dan dinyatakan sudah lulus SĐ. Tapi saya harus membayar untuk dibuatkan nilai di kelas 4,5 dan 6,” terang orang tua siswa.

Kini orangtuanya sudah mendaftarkan dengan mengambil formulir di SMP. Tapi ketika ke sekolah untuk ambil SKHU ternyata tidak ada.

Bahkan salah seorang guru bernama Ismail, menyuruh menghubungi kepala sekolah. Namun lagi-lagi, dimintai uang Rp1,5 juta.

“Uang Rp1,5 juta, dimana saya mau ambil sementara saya orang tidak mampu. Bahkan anak saya yang lain, sudah putus sekolah,” jelasnya.

Uang Terima Kasih

Sementara, Kepala SDN 030 Ammasangan Muhajar mengakui meminta orang tua siswa tersebut menyiapkan Rp500 ribu per wali kelas untuk pembuatan nilai.

Tapi orang tuanya menyampaikan tidak sanggup bayar. Karena itu, disarankan menemui langsung wali kelasnya masing-masing, agar diberikan kebijakan.

Apalagi sekarang pembuatan nilai menggunakan sistem online, bukan ditulis tangan sehingga ada biayanya.

“Sebenarnya anak itu, sudah dua kali tinggal kelas dan saat ini baru kelas empat tapi dapodiknya itu, berada dikelas enam. Karena anak ini malas ke sekolah dan orang tuanya pernah menghadap meminta petunjuk apakah anaknya bisa ikut ujian karena temannya sudah kelas enam dan saya bilang tidak boleh, jika secara aturan tapi boleh jika secara kebijakan,” terang Muhajar.

Menurut Muhajar, jika ketiga wali kelas empat, lima dan enam setuju dibuatkan nilai, karena tanpa nilai itu tidak boleh ikut ujian. Makanya Muhajar, meminta uang sebagai tanda terima kasih kepada wali kelas sebesar Rp1,5 juta.

Kesalahan Sekolah

Sementara itu, Sekertaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Polman, Hamka Rasyid mengatakan, seharusnya data yang dibuat di Dapodik itu sesuai dengan faktanya yakni jika tinggal kelas harus ditulis tinggal kelas, dan jangan dinaikkan di dapodik.

“Ini kesalahan operator jika seperti ini karena anak itu bisa tamat apabila menyelesaikan seluruh program di semua kelas,”terang Hamka Rasyid.

Hamka menegaskan jika seorang anak tidak naik kelas, laporan di dapodik juga harus dicantumkan keterangan tidak naik kelas, dan itu menjadi kesalahan sekolah.

“Permintaan pembayaran itu tidak dibenarkan dan jika memang guru mau membantu siswanya harusnya gurunya memberikan remedial kepada siswanya. Karena sekolah sendiri akan malu jika siswanya tamat, baru siswanya itu tidak tahu apa-apa,” jelas Hamka Rasyid. (lim/uba)

Terkait