Gotong Royong di Bulan Ramadhan dalam Masa Pandemi Covid-19

Oleh:
Muhammad Syahrir Gassa/ Dosen Kimia FMIPA UNM / Dewan Pakar ICMI Sulsel

BUDAYA gotong royong merupakan warisan dari nenek moyang bangsa Indonesia yang sudah mengakar sejak duhulu kala dan menjadi bagian dalam kehidupan bermasyarakat. Budaya ini memberikan manfaat yang luar biasa dan ini bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Mengenang masa perjuangan pendahulu kita dalam meraih kemedekan RI dari belenggu penjajahan merupakan bukti adanya semangat kegotongroyongan.

Bacaan Lainnya

Saat ini kita berjuang untuk merdeka dari serangan dari makhluk berukuran 120 – 160 nanometer yaitu jenis virus baru COVID-19 yang hanya bisa dilihat menggunakan mikroskop elektron (Jambione.Com), sehingga membangkitkan nuansa dan semangat kegotongroyongan dari bangsa kita sangat diperlukan. Kegotongroyongan bisa saja diwujudkan dalam bentuk kegiatan masyarakat secara bersama-sama menjaga perilaku hidup sehat demi melindungi dari penyebaran virus Covid-19. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatkan semangat gotong royong dalam bulan suci Ramadhan ini.

Hal ini bisa dimanifestasikan bagaimana orang mampu bisa melindungi orang miskin dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya terutama kebutuhan makanan di bulan mulia ini terutama bagi yang terdampak Pandemi Covid-19.

Pada bulan Suci Ramadhan ini ada banyak amalan-amalan yang perlu dikerjakan oleh kaum muslimin dan muslimat dan salah satunya adalah diwajibkannya membayar zakat, dan disunahkan membayar infak, sedekah, fidyah, dan amal jariyah lainnya dengan harapan Allah SWT akan menilai ibadah kita dan melipatgandakan oleh-Nya. Hasil pengumpulannya ini dibagikan kepada fakir miskin, fisabilillah, muallaf dan musafir serta yang berhak terutama yang terkena dampak Covid-19.

Pengumpulan bantuan berupa zakat dan infak tersebut bisa melalui amil zakat yang biasanya dikumpulkan di masjid, dimana masjid merupakan tempat paling mudah mensosialisasikan hal seperti ini, namun beberapa masjid sekarang banyak yang ditutup mulai awal ditetapkannya Indonesia mengalami pandemi Covid-19 sebagai bencana non alam secara nasional sampai sekarang.

Berdasarkan penjelasan Wakil Ketua MUI bidang Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat (KH. Cholil Nafis) melalui diskusi Indonesia Lawyers Club pada sebuah Acara Talkshow yang diselenggarakan TV One pada malam Rabu 29 April 2020 mengatakan bahwa tidak dilarang sebenarnya shalat jamaah terutama shalat Jumat di masjid malah diwajibkan dengan selalu tetap ada yang mengumandangkan adzan setiap shalat wajib 5 waktu, ketika daerahnya masih berada pada zona hijau (Muhammad Hafil, dkk, 2020 & koranpangkep.co.id) dengan harapan tetap mengikuti protokol kesehatan, misalnya selalu mencuci tangan pakai sabun, sering-sering berwudhu, sejadah harus selalu bersih serta lantai masjid selalu disemprot dengan desinfektan setelah selesai shalat.

Rupanya pada tahun ini kegiatan-kegiatan yang biasanya dilakukan di luar rumah baik di aula, kantor maupun tempat ibadah dan pertemuan yang sifatnya kerumunan orang berubah secara total dan kebanyakan dianjurkan dilakukan di rumah aja atau secara daring. Oleh karena itu diharapkan agar tempat pengumpulan bantuan terdampak Covid-19 bisa ditempatkan pada posko-posko pemantauan, rumah-rumah para relawan atau rumah-rumah para amil zakat serta lembaga amil zakat maupun tempat-tempat ibadah yang masih berada pada zona hijau baik dikumpulkan secara langsung/tunai maupun secara tak langsung.

Jika pengumpulannya dilakukan di masjid maka dapat diumumkan menggunakan sound system masjid atau pembesar suara, dimana disini masyarakat di lingkungan sekitarnya tidak akan kaget kalau ada hal-hal penting yang mau disampaikan bahkan bisa pula melakukan sosialisasi penanganan Covid-19 secara bijak.

Para donatur maupun dermawan diharapkan keikhlasannya apalagi di Bulan Suci Ramadhan agar memberikan sebagian hartanya untuk disumbangkan kepada korban Covid-19 yang membutuhkan, sekaligus membantu negara kita dalam memerangi Pandemi Covid-19 sehingga diperlukan kembali semangat kegotongroyongan dari semua pihak baik secara pribadi maupun melalui lembaga / organisasi dalam mengantisipasi dampak ekonomi dan sosial di negara kita dan tidak menutup kemungkinan adanya uluran tangan dari negara-negara sahabat.

Pemberian bantuan disini bukan hanya dalam bentuk sembako, perlengkapan alat kesehatan bagi tenaga medis tetapi juga berupa materi lainnya yang dapat berupa dorongan, motivasi, nasehat, tata cara penanggulangan baik secara preventif dan kuratif yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung berupa tulisan/artikel maupun penjelasan secara langsung kepada masyarakat di sekitar lingkungan kita terhadap bahaya pandemi Covid-19.

Para akademisi, peneliti, praktisi, dan cendekiawan diharapkan dapat menyumbangkan ilmunya berkaitan dengan bidangnya masing-masing serta mampu mengaitkan bagaimana pencegahan dan pengobatan pandemi Covid-19. Pada bidang Psikologi, misalnya bisa saja banyak masyarakat yang mengalami depresi akibat hal tersebut tetapi sebagai Seorang Psikolog harus mampu memberikan gambaran-gambaran penyelesaian masalah psikis terhadap apa yang dimiliki setiap pribadi muslim terutama yang terdampak Covid-19.

Seorang Scientis Kimia, misalnya melakukan eksperimen-eksperimen dalam membuktikan secara empiris berkaitan dengan keadaan lingkungan dan immunisasi tubuh, sebagai salah satu tindakan preventif pandemi Covid-19, sedangkan dalam melakukan tindakan diagnosa penyakit ini diperlukan salah satu pengetahuan Biokimia serta kemampuan analisis yang cukup efektif dan akurat. Perawatan kepada pasien Covid-19 dilakukan, dimana pelaksanaannya diperlukan penguasaan pemahaman di bidang Kesehatan dimana pemahaman Kimia secara menyeluruh juga diperlukan serta bidang lainnya akan saling melengkapi antara satu dengan lainnya.

Berdasarkan pemahaman-pemahaman seperti ini yang diberikan kepada masyarakat pada saat melakukan sosialisasi, berupa pelatihan dan kegiatan-kegiatan sosial masyarakat sehingga mereka benar-benar yakin bahwa perlunya kita semua menyadari akan bahaya pandemi Covid-19. Jika masyarakat kita semua tidak menjadi kompak dalam satu waktu tertentu yang dianjurkan oleh pemerintah mulai dari Pemerintah Pusat sampai ke tingkat RT/RW dalam melakukan Stay at Home misalnya dalam masa penerapan PSBB maka saya kira pandemi ini tidak akan ada akhirnya dalam memutuskan mata rantai Covid-19, sehingga disini diperlukan kesabaran yang tinggi baik yang terkena dampak maupun yang tidak terdampak.

Salah satu bentuk kegiatan yang sudah dilakukan oleh ICMI Sulsel terhadap kegiatan-kegiatan yang diberikan kepada masyarakat baik berupa bantuan pengadaan masker dan pembagian sembako kepada kaum duafa maupun kegiatan lainnya dalam rangka antisipasi Pandemi Covid-19. Organisasi lainnya, KKB Pusat Makassar juga telah melakukan kegiatan pembagian masker dan sembako kepada beberapa orang Bulukumba yang terdampak Pandemi Covid-19 di sekitar wilayah Makassar dan Gowa.

Kemudian Bapak Rektor UNM juga telah membagikan secara gratis hand sanityzer kepada semua dosen dan staf serta mahasiswa yang membutuhkan dan melakukan penyemprotan desinfektan pada sejumlah ruangan pada seluruh fakultas dibawah koordinasi Fakultas MIPA UNM kerjasama Jurusan Kimia.

Peristiwa pandemi yang pernah terjadi di Indonesia secara nasional diantaranya Penyakit Cacar sekitar awal abad ke-14 yang menelan korban jutaan jiwa, namun sampai sekarang masih saja tetap ada yang mengalami penyakit tersebut, tetapi karena sudah ditemukan vaksinnya sehingga tidak begitu banyak dan kalaupun tertulari langsung dapat diantisipasi dengan cepat. Berdasarkan beberapa hal tersebut di atas, sejalan dengan hasil pertemuan Dewan Pakar ICMI Pusat yang kami hadiri secara online melalui media Zoom pada tanggal 23/04/2020 yang dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Pakar ICMI Pusat (DR (Hc) Zulkifli Hasan) bahwa kita diharapkan semua bisa mematuhi aturan pemerintah terutama untuk tetap stay at home atau kerja dari rumah aja, diharapkan pengurus ICMI di daerah-daerah agar tidak henti-hentinya melakukan sosialisasi tentang bahayanya pandemi Covid-19 dan akan mengajukan beberapa rekomendasi untuk diajukan ke Presiden RI sebagai bentuk kepedulian Dewan Pakar ICMI Pusat dalam penanganan Pandemi Covid-19.

Artikel kami sebelumnya tentang langkah-langkah jitu menangani Covid-19 (Starnews, 2020), bahwa kita semua hendaknya bermohon kepada Allah SWT agar pendemi ini segera berakhir sebelum bulan Ramadhan 2020 dan alhamdulillah rupanya jumlah orang yang meninggal dari hari terakhir kemarin terjadi penurunan yang cukup menggembirakan di Indonesia terutama di Propinsi Sulsel karena mungkin kita semua sudah mematuhi aturan-aturan yang ada suatu ikhtiar dengan tetap selalu berdoa. Oleh karena itu kita semua harus selalu bersabar atas ujian ini yang diberikan Allah SWT kepada kita semua, oleh karenanya marilah kita bermohon selalu atas keridhoannya agar segera diredakan pandemi Covid-19 secepatnya di bulan Ramadhan ini, sehingga kebiasaan-kebiasaan sebelum pandemi kembali normal seperti dari biasanya. Semoga Allah SWT mengabulkan permohonan kita kepada-Nya agar peristiwa pandemi Covid-19 di Indonesia segera berakhir dan ditemukan vaksin secepatnya.
Aamiin allahumma aamiin. (*/)

Terkait