Curhat Anak Pasien PDP yang Kesulitan ‘Rebut’ Jenazah Ummi

Inilah ayah (atta) yang menceritakan kronologi kejadian yang dialami keluarganya. (foto ist)

STARNEWS.ID – Ini ada penuturan Andi Arnida Esa Putri, yang ibunya tapi dipanggil ummi meninggal karena divonis PDP Covid-19. Padahal menurut keluarga korban bukan Covid, tapi stroke yang menyebabkan pembuluh darah pecah dı otak. Nah, begini penuturannya :

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh… Ini kejadian kekejaman yang saya dapatkan dari tim medis dan tim gugus yang berbuat kasar kepada kami keluarga korban.

Bacaan Lainnya

Ummi saya (Nurhayani Abram) di vonis PDP padahal meninggalkannya karena stroke disebabkan pembuluh darah pecah di otak sebelah kanan dan akan dimakamkan sesuai protokol covid. Saya dan Etta (papa) Andi Baso Riadi Mappasulle berusaha untuk membawa ummi pulang ke rumah dan ingin memakamkannya secara layak di kampung halaman kami (Bulukumba).

Didalam IGD tempat ummi meninggal, saya sudah memohon-mohon kepada tim gugus dan tim medis agar kami membawa ummi pulang, tapi mereka menolak..
Pada akhirnya Etta saya bersujud mencium sepatu pimpinan tim gugus untuk memohon tetapi mereka tetap menolak.

Malahan kami dibohongi, tim gugus berusaha membujuk kami untuk membicarakannya baik-baik, dan tim medis ingin mengkafankan ummi.

Etta saya pun terbujuk dan keluar dari UGD untuk berbicara dengan tim gugus, sebelumnya dokter (pak haji sebutannya) menjanjikan akan menyolatkan ummi dan tidak akan memasukkan ummi kedalam peti serta akan menunggu Etta saya kembali untuk melakukan sholat jenazah sama-sama. Namun semua itu bohong.

Inilah hasil pemeriksaan swab dari Rumah Sakit Bhayangkara yang menyatakan pasien negatif covid-19. (foto ist)

Ketika Etta saya sudah keluar, tinggallah saya dan para tim medis, mereka mulai melakukan proses pengkafanan dan ternyata ummi hanya di tayammum, diperlakukan seperti jenazah Covid di semprot disenfektan.

Setelah dikafankan mereka mau memasukkan ummi kedalam peti, saya pun Menolak, bukan itu perjanjian diawal. Sikap saya seketika kalah karena dihalangi oleh petugas gugus yang tiba-tiba datang menyeret saya jauh dari peti.. mereka memasukkan ummi kedalam peti dan menutupnya. Saya mencoba berlari ke peti tapi usaha saya sia-sia, tenaga saya kalah saya disekap tidak bisa bergerak, malah saya terseret jatuh ke lantai dan baju saya ditarik.

Mereka mulai melakukan sholat jenazah tanpa menunggu Etta saya. Mereka membohongi kami.
Mereka pun membawa peti tersebut sambil lari-lari dan saya dihalangi untuk mendekat saya terseret seret mengejar peti itu, saya berusaha bangun dan kembali berlari namun tetap dihalangi lagi.

Sampai di depan RS, saya melihat Etta saya sudah tidur dibawah mobil jenazah untuk memblok, ternyata Etta saya juga disekap dilarang lagi untuk masuk IGD sedari tadi .. adik saya Adel berusaha ingin mendekati peti karena tidak diizinkan masuk IGD sejak semalam untuk melihat ummi terakhir kalinya tetapi Adel di halangi polisi dengan tameng.

Saya juga naik ke atas mobil berharap mereka akan memberikan jenazah ummi untuk kami bawa pulang kerumah, tetapi sekali lagi saya dikelitik diseret jatuh ketanah oleh petugas.

Akhirnya mereka berhasil membawa ummi , mereka melaju dengan cepat. Etta saya mengambil motonya (N-max) dan membonceng kami (saya, Adel, Alya) untuk mengejar mobil jenazah tersebut, kami bonceng 4.

Inilah keluarga mereka sewaktu Andi Ardina diwisuda dan dihadiri keluarganya. (foto ist)

Hanya Allah SWT yang mampu melindungi kami agar tidak terjadi kecelakaan di jalan.
Setiba di tempat pemakaman, kami tidak diizinkan ikut melakukan proses penguburan, dan hanya bisa sampai di gerbang saja. Mereka sungguh tidak ada hati nurani, mereka menguburkan jenazah yang jelas-jelas bukan Covid di penguburan khusus covid dan mempetikannya, Astaghfirullah..

Dan setelah melakukan pemakaman, mereka meninggalkan kami begitu saja, seandainya benar ummi kami PDP , tidak adakah tindakan dari tim medis kepada kami.. apalagi kepada saya ? Saya yang menemani ummi di RS hingga meninggal sampai mempertahankan ummi (memeluknya) agar tidak mereka bawa..

Saya menuntut keadilan untuk Ummi kami. Kami ingin memindahkan jenazah ummi kami yang jelas-jelas negatif covid.. apa hak Mereka menahan jenazah ummi kami di penguburan itu.

Saya memohon kepada teman-teman yang membaca tulisan saya, tolong bantu kami , tolong kami mencari keadilan untuk ummi kami. (*/)

Terkait