Endus Dugaan Kecurangan Kasek, Disdik Perkuat Kerja Sama dengan Inspektorat dan Kejaksaan Awasi Penggunaan DAK

Kondisi toilet salah satu SD di Gowa yang direhabilitasi menggunakan DAK, Selasa (10/11/2020).

STARNEWS.ID, GOWA — Sejumlah oknum kepala sekolah (Kasek) di Gowa diduga menyalahgunakan dana alokasi khusus (DAK) yang sedianya untuk proyek rehabilitasi sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Gowa, Salam menuturkan, sesuai petunjuk teknis (Juknis), proyek dengan menggunakan DAK di sekolah dilakukan secara swakelola. Proses pekerjaannya menjadi tanggungjawab penuh masing-masing kasek.

Bacaan Lainnya

Mereka yang diduga curang itu menyisihkan sebagian DAK ke kantong pribadi dan mengurangi volume ataupun melaksanakan pekerjaan tidak sesuai spesifikasi Rancangan Anggaran Biaya (RAB) yang telah ditentukan.

Akibatnya, mutu pekerjaan tak maksimal. Salam meyebutkan, pada tahun anggaran 2019 lalu, ada 12 sekolah yang tidak tuntas pekerjaannya.

“Ini semua ulah kepala sekolah. Tidak becus bekerja. Akibatnya Pemda yang rugi. Berutang,” beber Salam kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (10/11/2020).

Lantaran kerap melahirkan permasalahan dalam pelaksanaannya, maka Disdik Gowa lebih memperketat pengawasan penggunaan proyek rehabilitasi sekolah yang menggunakan DAK tersebut.

Tahun ini, kata Salam, hal tersebut tak boleh lagi terjadi. Kata Dosen UNM itu, Disdik Gowa telah bekerja sama dengan Inspektorat dan Kejaksaan untuk memonitoring pelaksanaan DAK di sekolah-sekolah.

“Sejak awal memang kita sudah mewanti-wanti kepala sekolah agar bekerja sesuai RAB. Yang nakal, kita langsung laporkan ke Inspektorat untuk diperiksa,” tegasnya.

DAK sekolah sendiri meliputi pekerjaan rehab kelas dan perpustakaan, Ruang Kelas Baru (RKB), serta pengadaan buku dan mobiler.

Hasil pantauan di lapangan, sejauh ini progress pekerjaan berjalan lamban. Itu dikarenakan anggaran yang tersendat-sendat.

Sebagian besar sekolah, terutama SD pekerjaannya berhenti. Alasannya, anggaran tidak cair. “Pekerjaan kita hentikan karena anggaran tidak cair,” aku Kepala SD Inpres Pappareang, Kecamatan Parangloe, Mansyur.

SD Inpres Pappareang mendapat alokasi anggaran DAK sekitar Rp400 juta lebih. Itu untuk pembangunan RKB perpustakaan beserta perabotnya.

Tapi baru sebatas pengerjaan RKB perpustakaan. Karena anggaran yang cair baru Rp150 juta. Itupun progres fisiknya baru sekitar 10 persen. “Atapnya belum ditutup,” ungkapnya.

SD Inpres Borisallo pun begitu. Bantuan rehab perpustakaan yang dikerjakan baru pemasangan kerangka atap. “Kemarin dua kali saya cek ke bank, tapi belum ada. Baru buku perpustakaan yang tiba di sekolah,” beber Kepala SD Inpres Borisallo, Hanurung.

SD Inpres Borisallo mendapatkan alokasi DAK untuk rehabilitasi perpustakaan sebesar Rp90 juta. Plus pengadaan buku senilai Rp50 juta. Hanya saja, khusus untuk pengadaan buku itu, Ia sebatas menerima barang saja. Bukan pihaknya yang lansung membelanjakan. “Saya tidak kelola anggarannya. Sisa terima buku saja,” aku dia.

Terkait soal ini, PPTK DAK SD Disdik Gowa, Neno menerangkan, dalam proyek DAK, kepala sekolah memang tidak mengelola anggaran pengadaan buku.

“Kepala sekolah hanya mengelola pekerjaan fisik saja. Pembelanjaan bukunya melalui e-Katalog. Via online,” jelas Neno.

Soal anggaran yang tersendat, lanjut Neno, itu bukan kewenangan Disdik Gowa. Melainkan di Keuangan Daerah. Menurutnya, proses pencairan anggaran disesuaikan dengan realisasi volume pekerjaan.

“Rata-rata memang untuk SD baru tahap pertama yang cair. Selanjutnya dalam waktu dekat ini tahap dua,” terangnya.

Ia menambahkan, alokasi DAK untuk SD di kabupaten Gowa tahun anggaran 2020 sebesar kurang lebih Rp20 miliar. Ratusan SD yang dapat.

“Ada juga beberapa sekolah yang dapat bantuan perbaikan jamban. Nilainya sebesar Rp14 juta,” pungkas Neno. (rus/dam)


Pos terkait