Gizi Prakonsepsi, Menuju Bangsa Sehat dan Berprestasi

Dr Irma Ardiana.,M.APS, (kiri atas) Dr.Dhian Dipo.,MA,(kiri bawah) Dr Ifta Choirriyah,MSPH.,Ph.D (kanan atas) dan Dr.dr.Lucy Widasari.,MSi (kanan bawah) (Foto ist)

STARNEWS.ID – JAKARTA – Saat ini, pemerintah Indonesia masih berfokus pada penanganan stunting. Situasi pandemi yang sedang berlangsung menjadi tantangan tersendiri, khususnya bagi BKKBN dan Kemenkes dalam membuat kebijakan dan koordinasi serta melakukan inovasi karena situasi pandemi memaksa semua pihak untuk berjuang dengan upaya yang tidak biasa atau berbeda dengan yang pernah dilakukan sebelumnya.

Koordinasi dan inovasi menjadi frasa kunci dalam penanganan pandemi, hal ini juga yang diharapkan dapat diimplementasikan di tingkat layanan kesehatan baik sekunder maupun primer.

Penyelenggara Minat S2 Gizi Kesehatan, Departemen BEPH,FK KMK,Universitas Gajah Mada sebagai bagian dari Annual Scientific Meeting 2021 bertajuk Koordinasi dan Inovasi Program Gizi Prakonsepsi dalam penanganan stunting untuk Indonesia Maju di lakukan secara daring. Selasa, (25/5/2021).

Acara ini dibuka Kepala BKKBN Dr. Hasto Wardoyo.,SpOG (K), dilanjutkan penyampaian materi kebijakan BKKBN terkait perencanaan keluarga yang disampaikan oleh dr Irma Ardiana.,M.APS, Dr. Detty Siti Nurdianti.,SpOG (K).,Ph.D, dari FKKMK UGM, Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes Dr. Dhian Dipo.,MA, Tenaga Ahli evaluasi TP2AK Sekretariat Wakil Presiden Dr. dr. Lucy Widasari.,MSi.

Acara dilanjutkan sesi talkshow yang disampaikan oleh Dr.Lucia Sri Rejeki.,MPH dan GKR Hayu Sebagai institusi pendidikan lanjutan dalam bidang Gizi Kesehatan Masyarakat, tergerak untuk membahas bagaimana koordinasi dan inovasi program gizi prakonsepsi selama masa pandemi.

Dalam rangka mendorong pembangunan manusia secara menyeluruh, perlu perhatian yang diberikan pada persiapan kesehatan sejak prakonsepsi atau sebelum terjadinya pembuahan. Pelayanan bagi wanita prakonsepsi berupa pelayanan pada wanita usia subur (WUS) atau usia reproduksi sehingga memberi kesempatan lebih awal mempersiapkan kesehatan calon ibu (dan ayah) serta upaya pencegahannya, identifikasi risiko dini kekurangan gizi termasuk anemia dan perilaku yang mempengaruhi kesehatan, terdeteksinya kondisi dan perilaku ibu sebelum hamil yang dapat menimbulkan risiko bagi calon ibu dan bayi, mencegah perlambatan pertumbuhan dalam rahim, serta peningkatan status gizi dan kesehatan ibu/calon ibu, yang akan mempengaruhi kondisi bayi ketika lahir.

Kesehatan bukan hanya sekedar di hilir, bukan hanya sekedar mengobati, tetapi kesehatan ada di hulu membentuk masyarakat yang tahu atau mengerti tentang kesehatan yang mendasar, mau menjadi manusia yang sehat dan mampu menjaga kesehatan diri dan keluarganya antara lain melalui intervensi sejak menjadi calon pengantin.

Langkah pertama untuk mengubah kondisi tersebut adalah dengan memperbaiki asupan gizi untuk wanita sebelum hamil dan pada saat hamil. Pemberian tablet besi dan folat pada saat ibu sudah hamil dianggap terlambat, karena seringkali seorang calon ibu terlambat mengetahui jika dirinya hamil. Padahal, pelekatan embrio pada dinding rahim terjadi hari ke 5-6 sampai hari ke 11-15 setelah terjadi pembuahan, sebelum seorang perempuan menyadari dirinya hamil. Pembentukan cikal bakal organ penting mulai minggu 1-3 setelah terjadi pembuahan, periode kritis kelainan perkembangan struktur organ terjadi 17-56 hari setelah pembuahan sehingga tidak cukup waktu untuk melakukan perbaikan gizi. Oleh karena itu, pelayanan wanita prakonsepsi menjadi sangat penting, agar periode kritis awal kehamilan saat pembentukan organ penting tidak terlewatkan.

Beberapa inovasi persiapan prakonsepsi disampaikan oleh Dr.dr.Lucy, antara lain inovasi Tugu Muda, catin bugar produktif menuju keluarga idaman yang diimplementasilan di 16 Kecamatan di Kota Semarang, yang dilakukan mulai tahun 2019. Layanan Terpadu pranikah (Laduni) di kabupaten Probolinggo yang diinisiasi oleh Prof. Dr. Sri Sumarmi.,SKM.,MSi, yang hingga saat ini sudah diadopsi di 4 Kab/kota yaitu Sidoarjo, Sampang, Halmahera Barat dan Halmahera Selatan.

Selain itu inovasi Posyandu Prakonsepsi di Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah yang diinisiasi pada tahun 2015 oleh Prof. Soekirman dan Prof. Dr. Abdul Razak Thaha.,MSc bersama Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai Dr. dr. Anang. S. Otuluwa,  MPPM yang saat ini telah di replikasi ke 4 Kabupaten dan 1 kota (Pare-Pare, Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Majene, Polman dan Mamasa, provinsi Sulawesi Barat, dan Kabupaten Pidie Provinsi NAD)

Lebih lanjut Dr.dr. Lucy menyampaikan, bahwa berat badan sebelum hamil merupakan prediktor yang baik untuk berat bayi yang dilahirkan. Sehingga sebelum proses kehamilan berlangsung, sangat penting bagi seorang wanita untuk mengetahui dirinya kekurangan ataupun kelebihan berat badan.

Keadaan gizi normal tercapai bila kebutuhan zat gizi optimal terpenuhi, dan keadaan gizi seseorang dalam suatu masa bukan saja ditentukan oleh konsumsi zat gizi pada masa itu, masa lampau atau gizi calon ibu sejak prakonsepsi, bahkan jauh sebelum masa itu, atau beberapa generasi sebelumnya.

Untuk itu mari lakukan perbaikan dari saat ini, kalau tidak, kita akan makin terlambat lagi beberapa generasi. Ujar Dr. dr. Lucy

Keberhasilan pembangunan suatu bangsa sangat tergantung kepada keberhasilan bangsa itu sendiri dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, sehat, cerdas, dan produktif.

Betapapun kayanya sumber daya alam yang tersedia bagi suatu bangsa tanpa adanya sumber daya manusia yang tangguh maka sulit diharapkan untuk berhasil membangun bangsa itu. Mari bersama meningkatkan pengetahuan melalui pendidikan pranikah yang akan membangun kesiapan menikah untuk Generasi Unggul Indonesia (*/Fad)


Pos terkait