Guru Ajak Siswa Pilih Ketua OSIS Seagama, KPAI : Ancaman Keragaman di Sekolah

Ilustrasi (foto iluszi)

STARNEWS.ID, JAKARTA – Percakapan seseorang bernama TS (56) dalam grup WhatsApp ‘Rohis 58’ mendadak viral di media sosial. Pasalnya percakapan berbau rasis itu diduga dilakukan oleh seorang guru. TS yang diduga merupakan guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti ini meminta agar anggota grup ‘Rohis 58’ tidak memilih calon Ketua Osis yang beragama non muslim.

Adapun tangkapan layar pesan yang ditulis TS adalah sebagai berikut : “Assalamualaikum…hati2 memilih ketua OSIS Paslon 1 dan 2 Calon non Islam…jd ttp walau bagaimana kita mayoritas hrs punya ketua yg se Aqidah dgn kita,” tulis Tini

Bacaan Lainnya

“Mohon doa dan dukungannya utk Paslon 3, Mohon doa dan dukungannya utk Paslon 3, Awas Rohis jgn ada yg jd pengkhianat ya,” ucap Tini dalam grup tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Timur Gunas Mahdianto membenarkan hal tersebut dan guru yang bersangkutan juga telah diberikan pembinaan oleh kepala sekolah. Guru ybs sudah di BAP dan Kepala Sekolah sudah melaporkan ke Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta.

KPAI Dorong Tumbuhkan Semangat Kerjasama

Peristiwa ajakan salah satu guru di salah satu SMAN di Jakarta t untuk tidak memilih Ketua Osis yang tidak seagama dengan mayoritas, menunjukkan penghargaan terhadap keberagaman mulai luntur di negeri ini, termasuk di sekolah negeri, padahal sekolah negeri seharusnya tempat menyemai keragaman karena para siswanya sangat beragam, baik secara agama, suku, status social, dll. Sejatinya, penghargaan atas keragaman penting ditanamkan kepada para guru. Tujuannya supaya para guru dapat membudayakan keragaman dan mendorong para siswanya untuk menghargai keragaman dan dapat hidup damai dalam perbedaan.

Kunci menyemai keberagaman dan menghargai perbedaan di sekolah berada di tangan para guru, sehingga penting menanamkan penghargaan atas keragaman kepada para guru dan Kepala Sekolah. .Para guru seharusnya menunjukkan sikap menghargai keberagaman karena hal itu selaras dengan prinsip pluralisme. Kebanyakan guru memilih bersikap abu-abu dalam menghargai keberagaman.
Negara Republik Indonesia dibangun di atas dasar kebinekaan sehingga keputusan untuk menghargai keberagaman tidak bisa bersifat abu-abu. Keputusan menghargai keberagaman harus bersifat hitam-putih. Artinya, tidak boleh ada kata “tapi” yang bersifat menoleransi tindakan anti-keberagaman sekecil apa pun yang terjadi di sekitar kita.

“Jadi, toleransi itu mutlak, bukan sekadar menghargai perbedaan, tapi lebih dari itu, tidak ada kebencian sedikit pun pada perbedaan,” ucap Retno Listyarti, Komisioner Bidang Pendidikan.

Menurutnya, apabila guru mengajarkan kebencian atas keberagaman, kebencian tersebut akan benar-benar terwujud di kalangan para siswa dan menjadi budaya di sekolah. “Karena apa yang diajarkan guru didengar murid-muridnya,” tutur Retno.

Kepala sekolah yang menghargai keragaman akan mampu membangun budaya menghargai keberagaman di sekolah. Namun, apabila kepala sekolah bersikap sebaliknya, sekolah tersebut, menurut Retno, masih punya harapan apabila para guru masih tetap dapat menumbuhkan budaya keberagaman di kelas masing-masing.

Ia menegaskan, peran guru sangat strategis mewujudkan sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia, yang tampaknya sudah mulai luntur di sekolah-sekolah. Menurut Retno, jika para guru menghargai keberagaman, maka para siswa akan turut bersikap menghargai keberagaman.Karena anak-anak itu peniru ulung dan mereka akan mudah meniru ketika gurunya memberikan contoh atau role model.

“Membangun budaya menghargai dan hidup dalam keragaman harus dilakukan dengan melibatkan seluruh komponen negara, mulai dari kepala negara hingga kepala sekolah dan guru. Sekolah seharusnya menumbuhkan semangat kerja sama dalam keberagaman, bukan justru mendorong keseragaman,” pungkas Retno. (rilis/uba)

 


Pos terkait