Kasatlantas Polres Enrekang Tegaskan Larangan Penggunaan Rotator dan Sirene

STARNEWS.ID, ENREKANG — Satlantas Polres Enrekang membagikan brosur terkait larangan penggunaan lampu isyarat (Rotator) dan sirene buat kendaraan umum maupun pribadi, Kamis (13/08/2020).

Bacaan Lainnya

Di kegiatan yang digelar di sepanjang jalan di Kecamatan Enrekang itu, Kasatlantas Polres Enrekang AKP Abd Azis menyampaikan, pemilik kendaraan memang berhak memodifikasi kendaraannya. Tapi, lanjut dia, aksesoris yang digunakan jangan sampai melanggar aturan.

Rupanya, tak sedikit pemilik kendaraan yang menggunakan lampu sirene dan rotator.

Padahal, penggunaan aksesoris tersebut tidaklah sembarang dan harus berdasarkan aturan yang berlaku.

Abd Azis menuturkan, pemasangan sirene, lampu strobo dan rotator pada kendaraan diatur sesuai dengan peraturan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

“Nah, apabila melanggar, petugas kepolisian mempunyai kewenangan untuk menertibkan kendaraan bermotor yang masih nekad menggunakan sirene, lampu strobo dan rotator yang tidak sesuai ketentuan,” tegasnya.

Adapun berdasarkan UU No. 22 Tahun 2009 pasal 59 ayat (5) Pengguna lampu isyarat dan sirine sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

Yakni, lampu isyarat warna biru dan sirene digunakan untuk mobil petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia, Lampu isyarat warna merah dan sirene digunakan untuk mobil tahanan, pengawalan Tentara Nasional Indonesia, pemadam kebakaran, ambulance, palang merah, dan jenazah.

Lampu isyarat warna kuning tanpa sirene digunakan untuk mobil patroli jalan tol, pengawasan sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, perawatan dan pembersihan fasilitas umum, menderek Kendaraan, dan angkutan barang khusus.

Oleh karena itu, apabila penggunaan komponen tersebut di luar ketentuan, maka pelanggar dapat dikenakan ketentuan pidana sesuai dengan Pasal 287 Ayat (4) UU Nomor 22 Tahun 2009.

Yaitu, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang melanggar ketentuan mengenai penggunaan atau hak utama bagi kendaraan yang menggunakan alat peringatan dengan bunyi dan sinar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, Pasal 106 ayat (4) huruf f, atau Pasal 134 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan, atau denda paling banyak Rp250 ribu. (zai/dam).

Terkait