Komunitas Pejuang Receh, Jadi Buruh di Kebun Bawang Demi Dapur Tetap Mengepul

Kaum perempuan yang tergabung dalam komunitas pejuang receh melakukan aktivitas kerja di kebun bawang milik salah seorang petani, Kamis (18/2/2021). (Foto : Zaeni Salloko)

STARNEWS.ID,ENREKANG — Pandemi Covid-19 membuat sektor ekonomi masyarakat anjlok. Pelbagai cara dilakukan, agar dapur tetap mengepul.

Begitupun komunitas pejuang receh. Kelompok yang anggotanya kaum perempuan itu rela menjadi buruh kebung bawang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.

Hanya bermodalkan semangat kebersamaan dengan ikhlas terjun kelapangan mengais rezeki menjadi Pekerja harian lepas di kebun milik warga petani bawang merah yang ada di Duri Kompleks.

Kelompok ini sudah tak asing lagi di tengah masyarakat awam kelompok ini dikenal juga dengan istilah  “Pangkaryawan“,(pekerja),red, yang siap diterjunkan apabila ada permintaan tenaga kerja atau orderan dari petani.

Sistim kerjanya pun agak unik dan menarik. Pasalnya, ada juga istilah pendaftaran yakni saat ada petani bawang yang butuh jasa pekerja. Tidak perlu lagi kasat-kusut mencari orang cukup menghuni salah satu anggota kelompok tersebut. Butuh berapa orang dan jenis kegiatannya apa.

Seperti yang dipaparkan oleh Suherti. IRT beranak dua ini menceritakan suka dan duka menjadi pangkaryawan.

“Iye, ada memang namanya kelompok pangkaryawan. Tapi tidak ada pengurusnya. Hanya istilahji. Jadi kami hanya kumpulan wanita wanita pejuang receh yang siap terjun lapangan bila ada panggilan dari petani yang butuh tenaga kerja, “jelas Suherti, Kamis (18/2/2021).

Senada juga disampaikan Siana Sampe. Ia sering mendapat telepon dari petani yang punya hajatan, untuk disiapkan tenaga kerja.

“Kalau ada petani telepon minta disediakan karyawan cuma sebut berapa orang kegiatan apa. Apa jenis pekerjaannya, ada istilah mengcabu’ (cabut bawang), ada mereu (membersihkan rumput bawang), ada mangngandik (mengikat bawang), ada juga meulli’ (mencari ulat didedaunan bawang), jadi upahnya juga berfariasi, tergantung jenis pekerjaannya, kalau sudah deal, maka saya langsung menghubungi teman malam harinya sesuai permintaan, “terang Siana.

Dari sisi dukanya, karyawan yang sudah terdaftar sudah harus siap usai Shalat Shubuh, menunggu jemputan yang telah disiapkan oleh pihak pemesan tenaga, dan yang paling melelahkan jikalau lokasi yang ditujuh jauh dari jangkauan kendaraan terpaksa harus jalan mendaki gunung,” ungkapnya.

“Seperti apapun kondisi medan yang akan kami tujuh, kami tidak pernah menolak sepanjang ada orderan, yang pastinya ada lagi receh demi membantu suami dalam mengatasi kebutuhan ekonomi keluarga selama masa pandemi Covid 19, asal asap dapur masih bisa mengepul yah..Alhamdulillah Aman,” paparnya. (Zaini).


Pos terkait