Lamban Tangani Kasus Curnak, YBHKI Sorot Kinerja Polsek Biringbulu

Foto ilustrasi pencurian sapi. (Int)

STARNEWS.ID,BIRINGBULU–Kasus pencurian ternak (Curnak) di Kecamatan Biringbulu kembali marak. Dalam satu bulan terakhir, ada dua kejadian pencurian ternak.

Sayangnya, kasus curnak ini belum bisa diungkap polisi setempat. Kinerja Polsek Biringbulu dalam menangani kasus curnak ini pun disorot. Dinilai lamban.

Bacaan Lainnya

Salah satu contoh kasus curnak yang dilaporkan warga Lingkungan Tompo’na, Kelurahan Tonrorita bernama Tajuddin.

Sejak Tajuddin melapor kehilangan 3 ekor sapi ke Polsek Biringbulu, 6 November 2021 lalu, polisi belum memanggil pihak yang diduga sebagai pelakunya.

Lambannya penanganan kasus curnak tersebut dipertanyakan oleh Ketua Yayasan Bantuan Hukum Kompak Indonesia (YBHKI), Ahmad Rana.

Ia menganggap kinerja penyidik yang menangani laporan kasus curnak Tajuddin tak becus.

“Yang saya ketahui penyidik sudah memanggil sejumlah saksi. Dari hasil keterangan saksi itu jelas bahwa ada oknum yang disebut diduga kuat pelakunya. Mestinya keterangan saksi ini dikembangkan oleh penyidik,” beber Ahmad Rana, Rabu (22/12/2021).

Menurut Ahmad, keterangan saksi saat diperiksa harusnya menjadi petunjuk penyidik dalam mengembangkan penyelidikan di lapangan.

Pihak yang disebut oleh saksi harus dipanggil. Apalagi saat kejadian, orang yang disebut dalam keterangan saksi itu banyak melihat melintas bersama mobil pick up grand max dengan membawa sapi menuju Desa Taring sekitar Pukul 23.00 WITA.

“Kalau penyidik masih ada keraguan memanggil maka bisa melayangkan surat undangan klarifikasi sehingga membuat terang suatu tindak pidana yang terjadi. Kami berpendapat simpel saja. Cukup penyidik tanya pemilik mobil dan siapa yang menyuruh mengangkut sapi dan dari mana diambil atau dibeli sapi tersebut,” urainya.

Ahmad Rana mengaku, pihaknya akan mengawal kasus ini. Sebab, jika tidak secepatnya dituntaskan, akan berdampak keresahan di tengah masyarakat.

“Akhir-akhir ini curnak marak di wilayah hukum Polsek Biringbulu. Selain Tajuddin, kejadian serupa juga dialami warga desa Baturappe, Dg Nginti. Baru-baru ini juga sapinya dicuri. Kalau Polsek Biringbulu tidak mampu menangani profesional kasus curnak, maka kami akan desak Kapolres Gowa untuk turun tangan,” ungkapnya.

Sesuai informasi Tajuddin kehilangan 3 ekor sapi pada tanggal 1 November 2021. Berselang 5 hari kemudian, Tajuddin baru melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Biringbulu.

Pelapor dan saksi lain pun sudah diperiks oleh penyidik. Namun pengakuan Tajuddin, dirinya tidak diberi surat tanda terima laporan. Begitupun Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) tidak diberikan.

Saudara Tajuddin, Saharuddin Matta ikut menyoroti kinerja Polsek Biringbulu. Dirinya mendesak agar penyidik segera memanggil pihak yang disebut dalam keterangan saksi.

“Saya minta kasus yang dilaporkan adik saya ini (Tajuddin) ditangani Polsek Biringbulu secara profesional. Penyidik panggil itu yang diduga sebagai pelakunya. Sebelum kami mengambil langkah sendiri,” desaknya via selular malam tadi.

Tajuddin mengungkapkan, 3 ekor sapinya itu hilang di kebunnya. Akibatnya, dirinya menanggung kerugian sekitar Rp45 juta.

“Harga 1 ekor saya taksir Rp15 juta. Jadi kalau ditotalkan 3 ekor berarti Rp45 juta,” katanya

Kapolsek Biringbulu Iptu Arifin yang dikonfirmasi enggan berkomentar banyak. Ia justru mempersilahkan menanyakan penanganan kasus curnak yang dilaporkan Tajuddin itu ke pihak penyidik.

“Pihak penyidik yang tahu benar itu. Silakan tanyakan ke penyidiknya,” elak Arifin.

Terpisah, penyidik yang menangani kasus curnak ini, Bripka Murfat menjelaskan, proses penyelidikan terus berjalan.

“Masih proses penyelidikan. Bahkan saya telah berkoordinasi dengan Unit Reskrim dan Resmob Polres Gowa untuk membantu memback-up penyelidikan,” katanya.

Terkait yang diduga sebagai pelaku, pihaknya belum melakukan pemanggilan dengan alasan keterangan yang disampaikan oleh saksi dianggap tidak jelas.

“Keterangan saksi ini kurang jelas. Malah saksi itu sekarang ketakutan dan mau meninggalkan Tonrorita,” ungkap Murfat.

Soal penyampaian SP2HP kasus curnak yang dilaporkan Tajuddin, lanjut Murfat telah diserahkan ke kepala dusun.

“SP2HP itu saya titip ke pak dusun. Saya minta tolong diberikan ke pelapor,” dalihnya. (rus)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *