Langkah Jitu Hadapi Pandemi Covid-19 Sebagai Makhluk Renik Sang Pencipta Alam Semesta

Oleh: Muhammad Syahrir Gassa

Beberapa langkah jitu tertentu yang perlu dilakukan terutama oleh seorang muslim dalam menghadapi musim pandemi Covid-19 sebagai makhluk renik oleh Sang Pencipta Alam Semesta yaitu dengan memperbanyak ibadah di rumah, misalnya shalat dan membaca Al-Qur’an, apalagi sekarang Pemerintah menganjurkan agar kita semua lebih banyak berdiam dan kerja kantoran dari rumah yang dilakukan secara online.

Bacaan Lainnya

Kebiasaan membaca Al-Qur’an setiap sebelum atau selesai shalat lima waktu dapat membantu menaikkan konsentrasi oksigen yang masuk dalam hidung dan mulut kita kemudian menuju ke paru-paru sehingga bercampur dengan sel darah merah yang mengandung hemoglobin dan mengalir masuk ke jantung untuk dipompa ke seluruh tubuh sehingga hal ini dapat meningkatkan pembakaran glukosa yang menghasilkan panas dalam tubuh terutama pada saluran pernafasan dan tenggorokan kita dimana virus yang bersarang di tubuh secara perlahan akan berkurang.

Kita semua berharap jika mengalami gejala Covid-19 maka bersegeralah ke Layanan Kesehatan terdekat misalnya puskesmas dan rumah sakit untuk memeriksakan diri bahkan sekarang ini tanpa gejalapun dari seseorang diprediksi akan terjangkiti virus Covid-19 atau memilih mengisolasi diri di rumah sambil melakukan pengobatan.

Seseorang yang tidak memiliki gejala Covid-19 tetapi belum mengetahui dirinya kalau mereka positif disebut Orang Tanpa Gejala (OTG) dimana mereka lebih banyak beraktivitas di luar rumah dapat memberikan peluang yang lebih banyak menularkan kepada orang lain minimal sekitar 2 – 3 orang. Selain hal tersebut di atas bahwa shalat wajib lima waktu maupun shalat sunat yang lain baik muakkad maupun ghairu muakkad ketika dilakukan di masjid maupun di rumah masing-masing dimana kesemuanya ini dilakukan dengan selalu mengambil air wudhu.

Menurut Lutfi Parewangi, 2020 bahwa air wudhu dapat mengobati penyakit corona karena virus ini tidak bertahan lama dengan air terutama pada air mengalir (Edy Arsyad, 2020).

Menurut Prof. Chaerul Anwar Nidom, 2020 bahwa Virus Corona dan virus lainnya tidak akan mudah menyerang tubuh kita jika antibodi / immunitas atau staminanya cukup tinggi dengan cara mengkonsumsi bahan-bahan dari bumbu masak makanan setiap harinya yang banyak mengandung curcuma (Edy Arsyad, 2020).

Adapun jenis tanaman yang mengandung curcuma diantaranya adalah kunyit, jahe, serei, temulawak, temu putih, temu mangga, temu hitam, temu giring, rimpang putih, dan jenis makanan atau minuman misalnya kurma, sarabba, secang, wedhan jahe, dan masih banyak lagi semacamnya terutama makanan bergizi dan halal untuk dikonsumsi.

Begitu banyak jenis tanaman yang berada di sekitar lingkungan kita terutama pada daerah tropis misalnya di Indonesia dan lebih khusus lagi di daerah Sulawesi Selatan yang bisa dijadikan sebagai obat herbal mengingat belum ditemukannya vaksin terhadap penyakit tersebut. Hanya kita harus mampu memilih dan mencari jenis tanaman atau tumbuhan apa saja yang ada di lingkungan sekitar kita dan sesuai serta cocok dijadikan sebagai obat herbal dalam memerangi virus corona yang sudah terlanjur masuk dalam tubuh kita.

Selain itu dilakukan dengan olahraga dan istirahat yang cukup, misalnya jogging terutama pada pagi hari sambil menunggu teriknya cahaya matahari minimal 3 kali seminggu.

Menurut beberapa hasil penelitian seperti dilansir dari Express, para ahli mengatakan bahwa berjemur di bawah sinar matahari bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan membantu memerangi penyakit, sebab matahari dapat meningkatkan kadar vitamin D yang diperkirakan berdampak pada kekebalan, ujar Profesor Gerard Ahern, yang memimpin penelitian di Universitas Georgetown di Washington DC (Radar Bandung, 2020).

Berolahraga dan berjemur di bawah sinar matahari sekitar 10 – 15 menit sekitar jam 10 pagi akan mampu meningkatkan immunitas / antibodi tubuh kita namun pada waktu tersebut sinar matahari mengandung sinar ultra violet yang bisa lebih membahayakan misalnya menimbulkan kanker kulit sehingga diharapkan berolahraga pada pagi hari sekitar pukul 7 – 9 dengan durasi 1 jam dimana sinar ultra violet yang dipancarkan matahari belum begitu banyak tetapi harapannya meningkatkan tingkat kekebalan tubuh.

Hal Ini berarti bahwa dengan jogging yang dilakukan secara kontinu dapat membantu meningkatkan kekebalan / antibodi tubuh yang secara otomatis mampu melawan virus corona yang akan masuk dalam tubuh kita.

Beberapa penelitian menggambarkan bahwa Covid-19 hanya bisa bertahan hidup dalam droplet ketika sudah terlepas dari udara sekitar 3-4 jam (Detiknews, 2020) dan mengenai jaringan tubuh terutama pada telapak tangan dan secara tidak langsung dapat masuk melalui hidung maupun mulut tetapi tidak bisa bertahan dengan air apalagi dicuci dengan sabun terutama pada suhu tinggi. Maka cukup dengan mengambil air wudhu jika kontinu dikerjakan Insya Allah tidak akan terserang Covid-19 bahkan langkah ini bisa juga diambil sebagai tindakan pengobatan.

Selain itu ketika kita berada di luar rumah misalnya berada di atas kendaraan, kantoran atau tempat kerja sehingga air biasanya sulit diperoleh maka diharapkan memakai hand sanityzer yang mengandung alkohol sesuai standar WHO.

Akhir-akhir ini biasanya terjadi kelangkaan hand sanityzer karena bahan baku di pasaran sangat terbatas sehingga mungkin hanya perlu menggunakan cara alternatif dimana kedua belah telapak tangan ketika dianggap terhinggapi dengan virus pada tangan maka bisa melakukan dengan metode gesekan pada kedua telapak tangan sampai terasa berbau dan panas kemudian diusap pada bagian tubuh yang dapat dijangkau, mulai dari bagian muka, kepala dan tubuh bagian depan.

Hal ini biasa dilakukan oleh sebagian jamaah di masjid atau di rumah ketika selesai shalat langsung dipraktekkan melalui cara tersebut. Mohon maaf, ini bukan hasil penelitian tetapi berdasarkan pengalaman orang-orang terdahulu dan merupakan bagian dari tata cara setelah berzikir tetapi hal ini mungkin sampai sekarang belum ada yang melakukan kajian secara ilmiah.

Berdasarkan logika berfikir dan teori ilmu alam bahwa jika dikaitkan dengan virus Covid-19 pada kondisi suhu panas yang terjadi pada kedua telapak tangan setelah dilakukan gesekan maka virus Covid-19 memungkinkan tidak bisa bertahan lama.

Kegiatan-kegiatan yang diungkapkan tersebut di atas merupakan kegiatan pencegahan dan ada pula kegiatan pengobatan ketika Covid-19 sudah terlanjur masuk dalam jaringan tubuh kita maka langkah-langkah yang dilakukan oleh pihak pemerintah merupakan suatu langkah yang tepat mulai dari penyiapan dana, penyiapan alat kelengkapan petugas medis berupa APD, desinfektan, hand sanitizer, kacamata geogle, sarung tangan dan masker yang merupakan salah satu tindakan preventif bagi petugas medis dalam melakukan diagnosa dan perawatan pada pasien yang terdampak Covid-19.

Selain itu beberapa lembaga perguruan tinggi maupun LSM serta organisasi-organisasi besar maupun kecil cukup aktif dan giat dalam upaya membantu pemerintah dalam menggalakkan peran melawan Covid-19. Kita semua sudah mengetahui bahwa pandemi Covid-19 bisa berasal dari manusia ke manusia, sehingga pemerintah menanamkan sosial distancing / physical distancing dimana beberapa kabupaten/kota bahkan propinsi misalnya Gubernur DKI Jakarta sudah menerapkan program pembatasan sosial berskala besar (PSBB), sedangkan Gubernur Sulawesi Selatan telah melakukan pembatasan sosial berskala kecil (PSBK) pada empat Kecamatan (Manggala, Rappocini, Tamalate, dan Panakukang) di Kota Makassar Propinsi Sulawesi Selatan mulai berlaku hari ini Ahad, 12 April 2020 (Kabar Makassar, 2020).

Menurut WHO melalui BNPB Nasional yang dikemukakan oleh jubirnya Achmad Yurianto bahwa mulai sekarang dalam masa Covid 19 semua masyarakat ketika keluar rumah diwajibkan memakai masker, dimana jenis masker ada 3 jenis ada berupa kain dengan syarat minimal 3 lapis, masker untuk petugas medis dan masker untuk orang sakit yang terkena Covid-19. Perlu juga dipahami dengan sering memakai masker terutama ketika mengalami flu atau sakit akan membantu cepat tersembuhkan dari serangan flu tersebut karena dapat meningkatkan terjadinya panas di sekitar hidung dan mulut kita, sehingga tidak memungkinkan virus akan bertahan lama di saluran pernafasan dan tidak menularkan pula ke orang lain.

Kesadaran masyarakat disini sangat diperlukan untuk mematuhi dari segala langkah-langkah yang dilakukan oleh pihak pemerintah. Kita meyakini bahwa Sang Pencipta Alam Semesta menghadirkan makhluk renik ini berukuran sekitar 1-5 mikrometer ternyata mampu menggemparkan seluruh negara-negara dari berbagai belahan dunia yang merupakan salah satu ujian yang diberikan kepada seluruh umat manusia di muka bumi dan salah satu tanda atas maha kekuasaannya. Oleh karena itu selain usaha dan ikhtiar yang dilakukan sebagai makhluk ciptaannya maka sepantasnyalah kita semua berdoa kepada Sang Pencipta Alam Semesta agar pandemi Covid-19 sebagai bencana non alam di muka bumi ini maupun berbagai bala bencana yang lain pada beberapa negara terutama di Indonesia dan lebih khusus lagi di wilayah Sulawesi Selatan, agar segera berakhir paling tidak sebelum memasuki Bulan Ramadhan tahun 2020, Aamiin Aamiin yaa rabbalalamin. (/*)

Terkait