Lintas Fish Farm Gelar Pelatihan Budidaya Nila Sistem Bioflok di Gowa

Kegiatan pelatihan budidaya ikan nila sistem bioflok di kediaman Ikbal H Ismail Dg Massuara di Dusun Bilayya, Desa Pallantikang, Kecamatan Pattallassang, Gowa, Sabtu (19/6/2021). Pelatihan itu diikuti peserta dari pelbagai kabupaten di Sulsel.(Foto : Rusli Haisarni)

STARNEWS.ID,PATTALLASSANG— Lintas fish farm melaksanakan pelatihan budidaya nila sistem bioflok. Kegiatan tersebut digelar selama dua hari, Sabtu dan Minggu (19-20/6/2021) di Dusun Bilayya, Desa Pallantikang, Kecamatan Pattallassang, Gowa.

Pelatihan budidaya nila sistem bioflok ini diikuti oleh peserta dari pelbagai daerah di Sulsel. Seperti Sidrap, Wajo, Pinrang, Enrekang, Takalar, Jeneponto, Maros, Barru dan Gowa.

Menghadirkan dua pemateri kompeten. Yakni praktisi teknik bioflok metafokus Bogor, Herry Setiawan dan praktisi teknik bioflok Tasikmalaya, Alfareza Taufik P.

Pemrakarsa pelatihan, Ikbal H Ismail Dg Massuro menjelaskan, budidaya ikan nila dengan sistem bioflok merupakan teknologi baru dengan memanfaatkan lahan sempit.

“Hanya menggunakan kolam sebagai wadah. Dengan memanfaatkan teknologi. Bisa dilakukan di pekarangan atau lahan kosong di sekitar rumah,” jelas Ikbal.

Sistem bioflok, kata dia, jauh lebih efektif dari budidaya ikan nila kolam air deras serta jaring apung atau karamba yang masih tradisional.

“Keunggulan sistem bioflok hemat pakan. Proses panen pun tidak susah. Juga ramah lingkungan,” terangnya.

Melalui pelatihan ini pun, teknologi budi daya nila bioflok ini lebih diperkenalkan.

“Selain itu untuk meningkatkan pemahaman tentang budidaya ikan nila kepada peserta,” tukasnya.

Ikbal sendiri mengaku mulai tertarik menekuni usaha budi daya ikan nila sistem bioflok sejak tiga tahun lalu. Sebelumnya, Ia bergelut di profesi service laptop.

Dengan memanfaatkan lahan bagian belakang rumahnya di Dusun Bilayya, Ikbal kemudian membangun kolam sebagai tempat budi daya ikan nila secara bioflok.

Jumlah kolam sejauh ini telah dimanfaatkan sebanyak 29 dari total 50 unit kolam yang akan dia bangun.

Masing-masing ukuran kolam berdiameter 4,30, dengan optimal daya tampung setiap kolam 1.300 ekor nila hitam dan 1000 ekor nila merah. Daya listriknya 100 Watt perkubik.

“Setiap kolam dilengkapi pipa aerasi sebagai komponen probiotik yang berfungsi mengurai sisa pakan dan fishes. Sehingga pakan itu bisa digunakan kembali,” urainya.

Untuk indukan ikan nila didatangkan langsung dari Balai Perikanan KKP RI di Sukabumi, Jawa Barat yang merupakan pusat pengembangan budi daya ikan nila sistem bioflok di Indonesia.

Menurutnya, teknik budi daya ikan sistem bioflok ini sangat membantu meningkatkan pendapatan ekonomi. Terutama di tengah pandemi sekarang. Sebab, nilai produksinya cukup menjanjikan.

“Setiap kolam bisa memproduksi Rp2 juta-Rp4 juta. Untuk nilai jual perkilo Rp34 ribu-Rp40 ribu dengan masa panen empat bulan setengah,” sebutnya.

Hasil budi daya ikan nila sistem bioflak yang dilakukannya itu sebelumnya dipasarkan di konsumen rumah makan di sekitar waduk Bili-Bili. Namun sekarang, Ikbal mengaku lebih fokus pada budi daya bibit saja.

“Hasil budi daya bibit itu disalurkan ke pihak binaan kita,” tambahnya.

Praktisi Teknik Bioflok Tasikmalaya, Alfareza Taufik P dalam materinya memaparkan, sistem budidaya ikan nila bioflok sudah mulai ada sejak tahun 2013.

Sistem ini, kata dia merupakan terobosan dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI dalam mengikuti perkembangan zaman.

Kecuali Papua, sebagian besar petani ikan di provinsi Indonesia sudah mengembangkan budi daya nila dengan sistem bioflok ini.

“Untuk Sulsel, pelatihan ini yang pertama dan bersertifikat. Melalui pelatihan ini, pemahaman peserta tentang teknik budi daya bioflok lebih diperdalam,” tandasnya.

Tokoh masyarakat Pattallassang, Nurdin Nakku Daeng Bundu mengapresiasi pelatihan budi daya ikan nila sistem bioflok ini.

Ia berharap, masyarakat khususnya di Gowa dapat menerapkan sistem bioflok. Apalagi Gowa memang dikenal sebagai daerah kuliner.

“Kita juga berharap ada perhatian pemerintah dalam membantu mendukung pengembangan budi daya ikan nila dengan sistem bioflak ini,” harap Daeng Bundu. (rus)


Pos terkait