Masuk Daftar Proyek Ilegal, Pekerjaan Poros Bu’rung-Bu’rung Dipastikan tak Lanjut

Plt Kabid Bina Marga Dinas PUTR Sulsel, Andi Sahwan Mulia (kiri pakai topi) bersama staf berbincang dengan tokoh masyarakat disela meninjau kondisi Poros Bu'rung-Bu'rung beberapa waktu lalu. Pekerjaan Poros Bu'rung-bu'rung merupakan satu dari sejumlah proyek ilegal sehingga pekerjaannya dihentikan. (Foto : Rusli Haisarni)

STARNEWS.ID,GOWA—Harapan masyarakat untuk menikmati jalan mulus di Poros Bu’rung-Bu’rung, Kecamatan Pattallassang, Gowa pupus. Pekerjaan perbaikan Poros Bu’rung-bu’rung dipastikan tak lanjut lagi, sebab masuk dalam daftar proyek ilegal.

Plt Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Tata Ruang (PUTR) Sulsel, Andi Sahwan Mulia mengatakan, penanganan Poros Bu’rung-Bu’rung hingga Benteng Gajah, Maros merupakan satu dari empat proyek ilegal.

Bacaan Lainnya

Tiga proyek lainnya yang juga ilegal, sebut Andi Sahwan, yakni pembangunan jalan ruas Solo-Penaiki, Kabupaten Wajo, proyek pedestrian kawasan CPI nomor 3, serta pekerjaan pedestrian penanganan kawasan CPI.

“Ini empat proyek yang dimaksud (ilegal,red). Termasuk itu penanganan perbaikan Poros Bu’rung-bu’rung-Benteng Gajah,” sebut Andi Sahwan di ruang kerjanya, Senin (19/4/2021).

Plt Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman pun telah mengeluarkan surat tanggapan ke Dinas PUTR Sulsel terkait empat proyek tersebut.

Dalam surat tanggapannya, Andi Sudirman Sulaiman memerintahkan Dinas PUTR agar menghentikan kegiatan pekerjaan empat proyek itu.

“Plt Gubernur juga memerintahkan Dinas PUTR tidak melakukan pembayaran karena empat proyek itu tidak tercantum dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA),” jelasnya.

Baik pekerjaan Poros Bu’rung-bu’rung dan tiga proyek infrastruktur lainnya yang masuk daftar proyek siluman Dinas PUTR, lanjut Andi Sahwan telah dihentikan pekerjaannya.

Khusus Poros Bu’rung-Bu’rung, kegiatan pekerjaan telah disetop sejak pertengahan Maret 2021 lalu. Adapun yang terlanjur telah dikerjakan oleh pihak rekanan dipastikan tidak akan dibayarkan.

“Tidak dibayar karena tidak tersedia anggarannya,” tukasnya.

Penanganan Poros Bu’rung-Bu’rung yang rusak parah sedianya diperbaiki sepanjang Rp2,5 kilometer. Nilai anggarannya Rp11 miliar lebih.

Sebelum disetop, PT Yabes Sarana Mandiri sebagai pihak rekanan telah meratakan permukaan jalan yang rusak parah. Begitupun drainasenya. Sudah digali.

Kegiatan pekerjaan di lapangan hanya berlangsung dua pekan. Setelah itu berhenti. Seluruh alat berat milik rekanan ditarik dari lokasi.

Tokoh masyarakat Pattallassang, Nurdin Bundu sangat menyayangkan hal ini. Bundu mengatakan, pekerjaan Poros Bu’rung-bu’rung yang berhenti di tengah jalan membuat masyarakat jadi korban.

“Galian di depan rumah warga yang sudah terlanjur digali menimbulkan keresahan. Membahayakan warga dan pengguna jalan,” keluhnya. (rus)


Pos terkait