Menembus Batas Terangi Negeri Tercinta

Beginilah lokasi daerah yang terisolir berhasil dijangkau petugas PLN di Kabupaten Mamuju, untuk segera menyalakan listrik yang rusak akibat goncangan gempa. (foto dok. PLN Sulselrabar)

STARNEWS.ID, MAMUJU – Nun jauh di pelosok, listrik sangat dirindukan dan dinantikan bagi warga yang bermukim. Cahaya listrik bagaikan oase untuk menjalani hidup sehari-sehari. Dulu, mereka hanya mengandalkan lampu minyak yang ditempel di dinding. Namun dengan makin berkembangnya teknologi, dan makin tangguhnya infrastruktur Perusahaan Listrik Negara (PLN), impian warga yang mendiami kampung-kampung sudah bisa merasakan cahaya listrik setiap hari.

Ini sudah dibuktikan PLN, dengan membangun gardu-gardu listrik dan tiang-tiang menjulang di setiap perkampungan. Dulunya, penerangan listrik dianggap sulit menjangkau di daerah terpencil seperti di pegunungan, yang harus melewati sungai dan lembah. Namun, kini tidak yang mustahil untuk digapai.

Bacaan Lainnya

Didukung tenaga handal yang berpengalaman, PLN terus mengembangkan sayap untuk terbang menerangi pelosok negeri. Pembangunan infrastruktur seperti di Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo dan Sulawesi Utara terus dipacu dalam lima tahun belakangan ini.

Khusus di Sulawesi Selatan, PLN bisa berbangga karena hampir seluruh wilayah sudah menikmati penemuan Thomas Alva Edison ini. Bahkan Tenaga Bayu juga sudah digunakan di Kabupaten Sidrap, untuk penerangan listrik. Bahkan saat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini, berusia 75 tahun, telah melistriki 75 dusun dan desa di Sulawesi Selotan dan Sulawesi Barat.

PLN berhasil melistriki 4.127 Kepala Keluarga (KK) dengan membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 147.65 kilometer sirkuit (kms) dan Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 91.78 kms, serta 62 gardu distribusi dengan total kapasitas 2650 kiloVolt Ampere (kVA) yang seluruhnya berada di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) Sulawesi Tenggara (Sultra) dan Sulawesi Barat (Sulbar) menjadi desa dan dusun yang kini menerima aliran listrik PLN selama 24 jam.

Tentunya, masyarakat diharapkan bisa menikmati dan menjaga listrik sehingga pasokannya terus terjaga. Bahkan masyarakat setempat bisa memanfaatkan tenaga listrik, untuk memulai usaha yang bersumber pada penerangan listrik tersebut. Nah, dengan demikian pendapatan bisa bertambah dengan masuknya listrik di dusun dan desa tersebut.

Petugas PLN harus bekerja keras untuk membangun kembali tiang listrik yang rubuh akibat goncangan gempa. (foto dok. PLN Sulselrabar)

Dusun dan Desa Nikmati Listrik

Selama tahun terakhir 2019-2020, upaya PLN untuk melistriki dusun dan desa yang masih gelap gulita terus menggeliat. Buktinya sejumlah daerah terpencil berhasil diterangi dan masyarakatnya bisa merasakan terangnya listrik selama 24 jam. Inilah bukti kalau BUMN ini, tak pernah lelah untuk menunaikan tugas mulianya membangun dan menerangi negeri.

Buktinya tujuh desa di Kabupaten Sinjai. Sulawesi Selatan berhasil dilistriki perusahaan tersebut selama masa pandemi. Ketujuh desa itu, diantaranya Desa Bonto Katute, Desa Bonto Tengnga, Desa Batu Belerang, Desa Bonto Katute, Desa Barambang, Desa Biji Nangka, Desa Kassi Bulleng yang terletak di Kecamatan Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.

Saat ini PLN sudah melistriki 30 desa di Sinjai, dan akan berlanjut pada  15 desa yang tersisa dan diharapkan bisa dituntaskan di tahun 2021 ini. Tentunya masyarakat yang telah menikmati aliran listrik ini, memanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan warga bisa lebih produktif untuk memperbaiki ekonomi keluarganya.

Masih di wilayah Sulawesi Selatan. Setelah menuntaskan pekerjaan di Sinjai, PLN juga berhasil melistriki 3 dusun di Kabupaten Soppeng yakni  dusun Cempalagi’e, dusun Lompotiang, dan dusun Wallemping di Kecamatan Donridonri, Kehadiran listrik di dusun ini, menjadi penopang kehidupan warga setempat yang sudah lama merindukan cahaya benderang di waktu malam hari.

Bahkan untuk sampai di salah dusun yaitu Wallemping, petugas PLN harus menempuh jarak sejauh 16 Kilometer dari jalan poros Soppeng-Sidrap dengan medan berbatu, tanjakan yang curam serta melalui anak sungai.  Namun demi tugas mulai memberikan penerangan pada warga, semuanya dilakukan dengan ikhlas tanpa pamrih.

Walaupun medan yang dilalui untuk menjangkau dusun tersebut terbilang berat, PLN berhasil membangun sepanjang 3,9 Kms Jaringan Tegangan Rendah, 9,5 Kms Jaringan Tegangan Menengah, dan tiga gardu distribusi dengan total daya 150 kVA. Total sebanyak 116 pelanggan di ketiga dusun tersebut telah dilistriki oleh PLN.

Tidak berhenti sampai di situ, PT PLN terus menunjukkan komitmennya untuk menerangi seluruh pelosok wilayah terpencil maupun wilayah yang yang menjadi tujuan wisata. Tidak terkecuali obyek wisata yang masih baru yakni kawasan pantai dan tebing Apparalang, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba.

Melalui program Nyalakan Listrik, PT PLN UP3 Bulukumba memasukkan jaringan listrik di kawasan wisata Apparalang. Tidak hanya itu, pihak PLN juga memberikan bantuan CSR untuk mengembangan wisata sebesar 150 juta rupiah.  Masuknya listrik di kawasan wisata ini, diharapkan bisa menarik para investor-investor untuk mengembangkan wisata alam tersebut.

Satu lagi program PLN yakni “Light Up The Dream” yaitu listrik untuk nyalakan mimpi, dimana seluruh pegawai PLN (Unit Layanan Pelanggan) ULP Soppeng berdonasi untuk menghadirkan listrik bagi masyarakat kurang mampu.  Hasilnya sepuluh masyarakat kurang mampu bisa mewujudkan mimpinya untuk mendapatkan listrik di tengah pandemi Covid-19 melalui program tersebut.

Salah seorang diantaranya bernama Ibu Matahari, yang tinggal di Jalan Pesantren Kabupaten Soppeng, terlihat sangat berbahagia dengan masuknya listrik di kampungnya. Bu Matahari menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya kepada PLN karena telah menikmati listrik sendiri.

Sikap PLN tidak pernah surut meskipun di tengah pandemi, kali ini mereka menerangi Desa Salubulo, Mamaju, Sulawesi Barat. Desa ini berjarak sekitar 60 Km dari Mamasa. Desa ini terletak di Kecamatan Bambang, Kabupaten Mamasa menjadi desa yang menerima aliran listrik PLN selama 24 jam.

Desa Salubulo berada di daerah pegunungan membuat petugas PLN cukup kesulitan dalam proses pembangunan. Akses jalan yang licin dan sempit serta kondisi tanah yang rawan longsor menjadi gambaran sulitnya perjuangan yang dilakukan PLN dalam melistriki 30 Kepala keluarga di desa tersebut. Namun semuanya berhasil dilewati, demi tugas mulai menerangi seluruh pelosok Indonesia.

Di daerah ini, PLN berhasil membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 1.32 kilometer sirkuit (kms) dan Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 1.05 kms, serta 1 gardu distribusi dengan total kapasitas 25 kiloVolt Ampere (kVA).  Gerilya PLN terus menerobos hingga daerah tersulit. Kali ini, giliran Desa Letta, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang.

Pembangunan infrastruktur untuk mengalirkan listrik di desa ini, butuh perjuangan. Dimana untuk menjangkaunya, petugas PLN harus menempuh jalanan bebatuan nan terjal dan melewati tanah merah yang membutuhkan jarak kira-kira 30 km dari Desa Rajang sebelum masuk ke Desa Letta atau sekitar 1 Jam 30 menit untuk mencapainya. Di sini terdapat 159 Kepala Keluarga yang sudah lama merindukan terangnya cahaya listrik.

Kembali PLN menerangi dua Dusun di Desa Toddolimoe, Kabupaten Maros. Sama dengan desa lainnya, dimana untuk melistriki daerah ini tetap butuh perjuangan ekstra untuk membangun infrastruktur kelistrikan. Namun bukan itu menjadi alasan, tanpa rasa lelah petugas PLN berhasil mewujudkan mimpi warga setempat.

Belum lagi di tengah wabah virus Corona atau Covid-19, tidak menjadi penghalang untuk terus mewujudkan tugas mulia. Dan, hasilnya 145 warga bisa merasakan terangnya lampu-lampu di rumah mereka. Tentu saja, pekerjaan sudah bisa mereka lakukan di malam hari, karena adanya penerangan listrik. Secara tidak langsung, akan membuka peluang usaha di bidang lainnya.

Nah, di sini PLN membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 10.9 kilometer sirkuit (kms) dan Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 6.3 kms, serta 3 gardu distribusi dengan total kapasitas 50 kiloVolt Ampere (kVA).

Satu lagi desa di Sinjai, yakni Desa Bongki Lengkese, Kecamatan Sinjai Timur. 80 Kepala Keluarga di sini, sudah lama merindukan listrik, namun baru terwujud. Sebagian warganya bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Khusus di desa ini, merupakan program Listrik Masuk Desa sesuai permintaan Pemkab Sinjai dan diteruskan ke Pemprov Sulsel, yang dieksekusi PLN.

Ada satu desa lagi, yang berada di Sulsel yakni Desa Lengora Pantai, Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, kini telah menerima aliran listrik PLN selama 24 jam.

Menuju lokasi ini, cukup sulit karena jalannya dipenuhi tanah yang bercampur bebatuan. Akibatnya petugas PLN mengalami sedikit kendala dalam membangun infrastruktur kelistrikan.

Juga jalan yang terjal dan penuh bebatuan menjadi gambaran sulitnya perjuangan yang dilakukan PLN dalam melistriki kurang lebih 79 Kepala Keluarga di dusun tersebut. Namun semua bisa dilalui, dengan semangat pantang menyerah untuk melistriki warganya.

Tentu saja, upaya terus akan bergerak sehingga semua wilayah bisa merasakan nikmatinya kemerdekaan dengan memiliki listrik. Dan, ini sudah menjadi komitmen PLN menerangi seluruh pelosok negeri, sesulitpun apapun kondisinya untuk membawa terang bagi warga negara Republik Indonesia. (*/)


Pos terkait