Mengaji Pancasila sebagai Upaya Memasyarakatkan Pancasila

Arven Marta (Alumni Taplai LEMHANNAS/Calon Ketua Umum PB HMI Periode 2021-2023). (foto ist)

Oleh Arven Marta (Alumni Taplai LEMHANNAS/Calon Ketua Umum PB HMI Periode 2021-2023)

PANCASILA sebagai sebuah ideologi bagi bangsa dan negara sudah final. Tidak seperti saat pertama kali hendak dirumuskan, saat ini tidak ada lagi pertentangan diantara para pejabat dan tokoh nasional akan isi serta butir-butirnya. Semuanya telah sepakat dengan Pancasila. Bahkan menyepakati juga perihal membumikan kembali nilai-nilai yang terkandung didalamnya.

Bacaan Lainnya

Hanya saja perjalanan Pancasila dari awal lahir hingga sekarang begitu banyak cobaan, rintangan dan hadangan. Betapa tidak, sejarah mencatat bahwasanya Pancasila hampir saja roboh oleh gerakan sekelompok oknum yang menamakan dirinya Partai Komunis Indonesia (PKI) yang kita kenal dengan Gerakan 30 September 1965. Gerakan tersebut bertujuan mengganti Pancasila menjadi ideologi bangsa dan negara dengan ideologi komunis.

Namun, berkat kesigapan seluruh element masyarakat saat itu dan juga keinginan yang kuat dari pemerintah, akhirnya gerakan ini gagal total. Pancasila dapat bernafas lega dan berumur panjang hingga sekarang.

Walaupun begitu, kita tetap harus waspada terhadap gerakan-gerakan kekinian yang berkeinginan mengganti ideologi bangsa dari Pancasila dengan ideologi lain (tidak hanya ideologi komunis). Sebab, dalam berbagai kesempatan juga kita melihat jika gerakan merongrong serta ingin merubuhkan Pancasila masih terlihat. Sebut saja misalnya gerakan yang hendak mendirikan negara Khilafah atau gerakan komunis yang ditengarai kembali mencuat.

Ditambah lagi dengan pertarungan ideologi dunia, semakin tampak bahwasanya Pancasila belum lah aman. Seperti sebuah bangunan, Pancasila adalah pondasi bagi bangsa dan negara. Rumah besar yang bernama Indonesia ini harus memiliki pondasi yang kuat agar tidak hancur lebur.

Memang pada hakekatnya Indonesia masih bisa berdiri gagah menjadi sebuah negara. Namun, tampaknya pondasi bangunan yang besar ini sangat rawan untuk hancur. Apalagi zaman globalisasi, kalau tidak memperkuat dan memperkokoh pondasinya (Pancasila) alamat akan makin keropos nanti kedepannya.

*Konsep Mengaji Pancasila*

Nah, agar menjaga pondasi ini makin kokoh perlu kiranya untuk kita melaksanakan kegiatan yang dinamakan dengan ‘Mengaji Pancasila’. Mungkin sebagian dari umat muslim sudah paham betul apa yang disebut dengan mengaji.

Seperti kebanyakan proses mengaji yang pernah juga saya lakukan, kiranya patut jugalah kita mengaji Pancasila. Dimulai dari membaca, menghapal, lalu menterjemahkan seluruh sila beserta nilai-nilai per sila didalamnya.

Konsep mengaji Pancasila pun tidak jauh beda dengan konsep mengaji Al Qur’an. Tujuannya pun sama, yakni menamatkan atau khatam. Tak hanya sekedar menamatkan, nanti setelah selesai dibaca, bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Memulai untuk mengaji Pancasila secara terus menerus diperlukan sebuah keinginan yang kuat dari masyarakat. Mengaji Pancasila ini pun sempat dilakukan oleh pemerintah orde baru melalui penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Sayangnya, program tersebut belum menyasar keseluruh elemen masyarakat. Alhasil, program ini pun sekarang dihapuskan. Ditambah dengan metode nya yang sudah ketinggalan zaman, jadi tak ada alasan juga mempertahankannya.

Saat kita dihadapkan dengan bonus demografi dan arus globalisasi yang semakin massif, disaat itu tantangan untuk mempertahankan ideologi menjadi lebih berat. Pertarungan ideologi sangat terasa. Dengan menyasar anak muda, masyarakat awam bahkan tokoh masyarakat pun sekarang sudah ada yang terpapar oleh gerakan yang hendak mengganti ideologi negara yang biasa juga disebut radikal.

Mengaji Pancasila dapat dilakukan dengan membuka pintu seluas-luasnya kepada seluruh komponen agar memasyarakatkan Pancasila dengan bergandengan tangan bersama. Dapat dimulai dari pembentukan relawan peduli Pancasila, lalu diberikan buku saku selayaknya seperti Al Qur’an sebagai pegangan. Setelah itu jika perlu dibuat semacam pelatihan sebagai bentuk melihat perkembangan kepancasilaan masyarakat.

Sedikit bercerita, hal ini pun telah dilakukan oleh pemerintah dalam pelatihan Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (Taplai) yang dilakukan oleh Lembaga Ketahanan Nasional. Sebagai salah seorang peserta, saya pun merasakan dampaknya dari pelatihan Taplai Lemhannas. Saya menjadi lebih cinta lagi dengan Indonesia dan menjadi lebih mencintai Pancasila.

Hanya saja, dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta dan hampir separuhnya adalah anak muda berusia 15-40 tahun, saya pikir tidak akan semuanya bisa mendapatkan kesempatan menjadi peserta Taplai.

Oleh karena itu, untuk lebih memasyarakatkan Pancasila, perlu dilakukan mengaji Pancasila. Pemerintah cukup membekali masyarakat dengan buku saku Pancasila. Setelah itu berikan wadah kepada generasi muda untuk melaksanakan semacam Musabaqah Tilawatil Pancasila secara bersama-sama.

Niscaya nanti setelah generasi muda menjadi penghapal Pancasila, lalu bisa didorong untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Alhasil, Pancasila bisa diselematkan dari ideologi lain. Pondasi rumah besar bernama Indonesia ini semakin kuat. Yakin usaha sampai. (*/)


Pos terkait