Naomi Sampeangin, Usia Senja tak Menghalangi untuk Berjuang Dampingi ODGJ

Nampak Ibu Naomi bersama relawan lainnya mendampingi ODGJ untuk dirawat di Rumah Singgah. (foto dok pertamina parepare)

STARNEWS.ID, PAREPARE – ‘Tak Kenal Maka Tak Sayang’ pepatah ini cocok disematkan pada kiprah Naomi Sampeangin. Wanita lansia berusia 70 tahun ini, rela mengabdikan hidupnya untuk mengurusi Orang Dengan Gangguang Jiwa (ODGJ) di Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Naomi mengaku sudah hampir setengah dari usianya, dipakai untuk mengurusi ODGJ. Wanita asal Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar) ini, mengaku tertarik mengurusi ODGJ karena panggilan hati nuraninya.

Bacaan Lainnya

Bagi Naomi bila melihat ‘orang gila’ biasa orang menyebut para ODGJ begitu berkeliaran di jalan. Padahal mereka butuh perhatian dan sentuhan kasih sayang.Bukannya mereka dijauhi dan dikucilkan, sehingga penyakitnya bertambah parah.

“Seharusnya mereka dirangkul, didekati secara manusiawi dan mengenal mereka lebih dekat dan bukannya mereka dibiarkan terlantar tanpa perhatian,”tutur Naomi.

Diakui ketertarikannya mengurusi ODGJ secara tidak sengaja. Karena mulanya Naomi, adalah seorang Kades Pos Yandu di Kelurahan Ujung Lare, Kecamatan Soreang, kota Parepare.

Dari kesehariannya terbiasa mengurusi dan melayani warga setemmpat yang memerlukan bantuan. Bahkan tak mengenal waktu, meskipun di malam hari atau 24 jam.

Tanpa disadarinya kalau di sekitarnya, banyak orang yang terkena gangguan jiwa tapi sudah diterlantarkan keluarganya. Sebab terkandang, keluarga mereka malu bila ada anggota keluarganya yang dicap ‘orang gila’.

“Bagi saya ini adalah panggilan jiwa, dan saya akan bergerak cepat bila melihat ada orang gila, yang terlantar dan tidak diperlakukan semestinya,”urainya.

Apalagi terkadang perlakuan masyarakat setempat pada orang gila, diolok-olok dan dicemoho dan tidak diberikan ruang untuk sembuh.

Belum lagi, kota Parepare sebagai daerah transit dan kota niaga pelabuhan. Dimana menjadi tempat hilir mudiknya warga utamanya dari Kalimatan dan negeri jiran Malaysia. Secara tidak langsung, mereka membawa permasalahan sosial di tengah kehidupan, yang memicu timbulnya gangguan kejiwaan.

Belum lagi, di Sulsel hanya ada satu rumah sakit yang khusus menampung para penderita gangguan jiwa yakni Rumah Sakit Jiwa (RS) Dadi Makassar. Dipastikan daya tampungnya terbatas, sehingga tidak semua ‘orang gila’ bisa dirawat di rumah sakit tersebut.

Kondisi ini menyebabkan banyak warga terpaksa mengurungkan membawa keluarganya untuk berobat ke RSJ tersebut. Mereka lebih memilih memasung para ODGJ, dan tidak diperlakukan semestinya.

Terkadang juga ‘orang gila’ dibiarkan berkeliaran di tempat-tempat umum dan menjadi tontonan masyarakat. Mirisnya lagi, para penderita terkadang mendapatkan kekerasan verbal dan seksual seperti pemerkosaan.

Nampak ibu Naomi memberikan pemahaman terhadap keluarga ODGJ terkait pentingnya memberikan perhatian pada pasien ODGJ. (foto dok. pertamina parepare)

Kerjasama Pertamina Parepare
Dibalik usahanya yang gigih, pertolongan untuk membantunya pun datang. Suatu ketika, Naomi bertemu pihak Fuel Terminal Parepare.

Dari pembicaraan tersebut, pihak Pertamina bersedia mengisiasi terbentuknya Yayasan Cahaya Pelita Sehati (YCPS) pada tahun 2018. Yayasan ini memberikan pendampingan dan rumah singgah bagi para ODGJ.

Dimana pelaksanaanya jumlah orang yang menderita gangguan jiwa, terus datang untuk diberikan pendampingan dan perawatan.

“Sejak terbentuk yayasan dan adanya rumah singgah, jumlah ODGJ terus datang atau dibawa keluarganya untuk diberikan pendampingan dan perawatan,”ungkap Naomi.

Ternyata setelah mereka diberikan perhatian, beberapa dari ‘orang gila’ tersebut bisa sembuh dan pulih kembali. Setelah itu, mereka dikembalikan ke keluarganya dan bisa beraktifitas di tengah masyarakat.

“Mereka juga manusia dan warga negara. Tidak sepantasnya mereka ditelantarkan,” tegas Naomi.

Salah seorang warga Soreang Kota Parepare yang memiliki anak ODGJ bernama Simon, mengaku terbantu dengan adanya program ini.

Kini anaknya yang berumur 18 tahun, selama dirawat di rumah singgah dan didampingi Naomi, sudah sembuh dan kembali ke keluarga lagi.

“Ketulusan Ibu Naomi dalam memberikan pendampingan dan pelayanan jauh lebih dari kami orang tuanya sendiri. Kami banyak belajar darinya,” kata Simon.

Ini juga diakui Syarifah yang mengaku sangat terbantu dengan Ibu Naomi. Dimana hampir setiap hari datang ke rumahnya menanyakan kondisi anaknya yang menderita ODGJ.

“Saya tidak tahu, apa yang saya berikan pada ibu Naomi, yang setiap hari kesana kemari mengurusi anak saya,”kata Syarifah sambi terisak mengenang perlakuan ibu Naomi pada anaknya.

Diusianya yang sudah senja, ibu Naomi patang menyerah dan terus berjuang mengurusi ‘orang gila’. Naomi tanpa pamrih dan selalu tulus membantu keluarga yang mempunyai anak dengan ODGJ.

Mereka semua berharap agara Naomi, selalu diberikan kesehatan dan tidak berhenti dalam menjadikan kota Parepare. Karena wanita ini, tidak berharap tanda jasa dan imbalan, namun kepuasann hatinya bila melihat ODGJ bisa sembuh dari penyakitnya.

Namun satu yang menjadi tantangannya, dimana kadang ada ‘orang gila’ yang dirawat dan sudah dinyatakan sembuh tapi pihak keluarganya tidak mau menerima lagi.

“Kami kadang menyesalkan sikap keluarga yang tidak mau menerima kembali keluarga yang sudah sembuh, mereka mengaku masih takut,”sesal Naomi.

Buktinya ada pasien ODGJ yang sudah didampingi dan dinyatakan sehat kembali tidak diterima keluarganya. Karenanya, Naomi tetap merangkul mereka dan mempekerjakan di rumah singgah.

Saat ini, bersama kelompoknya mendampingi 26 ODGJ di dalam rumah singgah tersebut. Diharapkan mereka bisa sembuh, dan para ODGJ tidak ditemukan lagi berkeliaran di jalanan sekitar kota Parepare.

Program Pertamina dengan Yayasan
Sejak mendapatkan pendampingan dari Fuel Pertamina Parepare, program YCPS sudah tersusun dengan rapi dan bisa berjalan secara rutin.

Bersama Pertamina, Naomi dan kelompoknya melakukan beberapa program antara lain:

1. Menjalin kemitraan dengan enam Puskesmas di Kota Parepare
2. Meningkatkan kerja sama dengan institusi terkait baik pemerintahan dan swasta dalam membangun gerakan bersama SEHATI menangani ODGJ
3. Kunjungan rumah ODGJ
4. Terapi Aktivitas Kelompok bagi ODGJ
6. Support Help Group atau kelompok swabantu bagi keluarga atau pendamping ODGJ
7. Pendampingan kepada ODGJ untuk mengakses layanan kesehatan, meningkatkan keterampilan dan aktivitas produktif
8. Edukasi kepada keluarga atau pendamping ODGJ mengenai kesehatan jiwa
9. Sosialisasi isu kesehatan jiwa kepada masyarakat
10. Peningkatan kapasitas kader kesehatan jiwa dan petugas kesehatan di Puskesmas
11. Pembentukan sistem untuk pemberian layanan kepada ODGJ dari beberapa stakeholder terkait

Sementara itu, Area Manager Communication, Relation & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Laode Syarifuddin Mursali mengatakan bahwa setiap wilayah operasi Pertamina memiliki social mapping yang memetakan masalah dan potensi masyarakat disekitarnya.
Nah, dari hasil social mapping tersebut Fuel Terminal Parepare mendapati ada sosok yang memiliki kepedulian tinggi yang menjadi panutan masyarakat. Tetapi belum mendapat perhatian yang serius.

“Setelah kita dalami akhirnya Pertamina membantu beberapa peralatan pendukung pendampingan dan menjembatani Ibu Naomi dengan berbagai pihak seperti Dinas Kesehatan yang menyuplai obat-obatan untuk mereka. Alhamdulillah sejak 2018 sudah banyak ODGJ yang berhasil disembuhkan Ibu Naomi,” tutur Laode.***


Pos terkait