Kisah Juragan Bus yang Terapkan Ajaran Agama dalam Usaha

STARNEWS.ID, TANGGERANG – Haryanto bukan orang yang terlahir kaya. Dia cuma anak dari pasangan buruh tani di Kudus, Jawa Tengah. Kehidupan masa kecilnya begitu sulit. Sampai-sampai kedua orangtuanya harus mencari penghasilan tambahan menjadi tukang pemisah tulang dengan daging ikan di pasar.

Hanya keuletan dari kedua orangtua Haryanto yang membuat penghasilan pas-pasan itu bisa mencukupi hidup keluarga ini. Keuletan yang kelak ditularkan kepada Haryanto kecil.

Muat Lebih

Sejak kecil, bekerja sudah menjadi keseharian Haryanto. Dari menggembalakan sapi orang lain, mencari rumput, hingga berjualan es pernah dilakoni. Semua itu dijalani lepas pulang sekolah.

Haryanto adalah sosok remaja yang bandel. Dia tidak gamang meninggalkan sesuatu jika merasa tidak cocok. Lihatlah pengalaman sekolahnya. Tak kerasan duduk berlama-lama di bangku Sekolah Teknik Menengah (STM), Haryono memutuskan berhenti. Nekat merantau ke Tangerang tanpa uang sepeserpun.

“ Saya mau mengubah nasib,”….
Bukan tanpa alasan Haryanto berontak seperti itu. Dia ternyata punya mimpi. Ingin mengenakan seragam loreng, menjadi seorang tentara. Dan sekolah baginya tidak mampu mewujudkan mimpinya menjadi tentara.

Salah satu aturan yang diterapkan untuk para sopirnya agar tetap melaksanakan shalat lima waktu. (foto ist)

Hal itulah yang menjadi alasan Haryanto pergi meninggalkan rumahnya di Kudus.

Tiba di Tangerang, Haryanto lantas mencoba peruntungan mendaftar sebagai anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Keberuntungan seperti memihak pada Haryanto. Hingga pada tahun 1979, Haryanto terpilih dan menjadi anggota Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad). Tugas pertamanya di Tangerang.

“ Saya dididik jadi pengemudi, tugas saya mengangkut alat-alat berat, meriam, beras, dan perminyakan,” kata Haryanto.

Menjadi pengemudi di lingkungan tentara, Haryanto cuma mendapatkan upah Rp 18.000 setiap bulan. Hanya bisa menutupi kebutuhan hidup dan mengontrak rumah. Sisanya, bisa untuk menabung.

Kehidupan rumah tangga yang dijalani pada 1982 mengubah semua. Kebutuhan hidup membengkak. Bukan hanya satu mulut yang disuapi. Gaji yang diterima sudah tak menutup kebutuhan.

“ Untuk bayar sewa rumah saja saya utang,” ucap Haryanto.

Tak patah arang, Haryanto memutuskan jadi sopir angkot. Hitung-hitung tambang pemasukan saat gaji tak bisa diandalkan. Berbekal pengalaman pengendara kendaraan berat, Haryanto mengantarkan penumpang.

Saban pagi sampai pukul 15.00, dia melakoni profesi sambilan itu. Dilanjutkan menjadi tentara di kesatuannya samoai pukul 10 malam. Namun itu belum selesai. Pulang dinas, Haryanto kembali menyopir angkot hingga larut malam.

Waktu istirahat Haryanto terpangkas sangat signifikan. Tetapi, dia melakukan pekerjaan itu dengan ikhlas demi menghidupi keluarganya.

Dua tahun menikah menjalani profesi ganda, kondisi keluarga Haryanto tak juga membaik. Bermodal uang tabungan Rp1 juta, sebuah angkot dari pabrikan Daihatsu dibelinya. Angkot itu dia jalankan sendiri.

Tak dinyana, usaha angkotnya ternyata semakin ramai. Mimpi sebagai tentara disudahi. Bukan tak sanggup, tapi takut profesi sebagai sopir angkot mengganggu tugas-tugas di kesatuan. Surat pengunduran diri pun diajukan Haryanto

Berpangkap kopral, Haryanto mengakhiri impian yang sudah dipupuknya sejak kecil.

Kini kopral purnatugas ini bisa menjalani profesi baru dengan leluasa. Menjadi seorang sopir angkot.

Lama kelamaan, usaha angkot Haryanto berkembang dan menguasai hampir sebagian besar trayek seputar Tangerang. Dalam 10 tahun saja, Haryanto telah memiliki 100 unit angkot di tahun 2000.

Tak puas cuma jadi juragan angkot, Haryanto menambah cabang usahanya. Dia membuka showroom khusus angkot di Tangerang. Pelbagai angkot dengan beragam modifikasi terpampang di sana. Usaha ini pun meraup sukses. Meski begitu, Haryanto masih belum puas.

Hingga puncaknya, Haryanto memberanikan diri mengajukan pinjaman usaha ke sebuah bank nasional. Tak disangka, pengajuannya dikabulkan. Bank memberikan kredit Rp3 miliar. Uang ini dipakai membeli enam unit bus.

Dengan enam unit tersebut, Haryanto mulai mengibarkan bendera bernama PO Haryanto. Penumpang dari ibukota menuju beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur dilayani. Sampai nama Haryanto begitu melekat di jalur Pantura.

Merasa kualitas sebagai faktor penting, Haryanto melatih seluruh sopirnya agar tidak mengemudi ugal-ugalan. Perilaku yang sangat sulit ditemukan di sebuah perusahaan pengangkutan. Namun nasihat itu dijalani benar. Makin jatuh hatilah penumpang pada PO ini.

Hingga saat ini, diperkirakan jumlah armada bus yang dia miliki mencapai lebih dari 83 unit.

Meski berawakan bandel, Haryanto ternyata tidak sekalipun meninggalkan ajaran agama. Salat lima waktu tak pernah ditunda apalagi ditinggalkan. Salat baginya adalah kunci kesuksesan.

Kebiasan ini yang ditularkan kepada seluruh karyawannya. “ Orang yang kerja sama saya mudah, saya ajak bekerja, asalkan mau salat berjamaah,” kata dia.

Haryanto memang pribadi yang dikenal begitu sederhana. Dia sangat ramah pada orang lain dan rajin ibadah. Tengok saja pengumuman yang terpanjang di setiap busnya.

Para kru diwajibkan salat fardlu dan memberikan hak kepada penumpang untuk menjalankan salat. Apabila dalam perjalanan, maka bus wajib berhenti di masjid jika waktu salat sudah tiba. Kru yang melanggar harus siap-siap tidak menerima upah selama satu kali perjalanan pulang pergi.

Tidak hanya itu, Haryanto pun memberikan penghargaan kepada para karyawan. Dia menyadari betul haji merupakan ibadah yang tidak semua orang bisa menunaikan. Kebanyakan karena faktor keuangan.

Hal itu membuat Haryanto membuat program menghajikan seluruh karyawannya. Program itu merupakan bentuk penghargaan bagi seluruh karyawan yang telah membantu membesarkan PO bus miliknya.

Haryanto adalah satu potret muslim yang tidak pernah meninggalkan ajaran Islam sedikitpun. Meski sibuk dengan urusan duniawi, jika panggilan salat berkumandang, dia dan seluruh karyawannya berhenti bekerja dan mendirikan salat jemaah. (int/star1)

Pos terkait