Pacu Kemampuan Siswa, MTsN 1 Makassar Ikuti Revolusi Pembelajaran Ala Kemenag

Kepala MTsN 1 Makassar, Darmawati

STARNEWS.ID, MAKASSAR — Inovasi di dunia pendidikan mesti dilakukan. Apalagi di tengah pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang masih meneror saat ini.

Bacaan Lainnya

Demikian pula diterapkan di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Makassar. Ditemui starnews.id di ruang kerjanya, Selasa (11/8/2020), Kepala MTsN 1 Makassar, Darmawati menuturkan, 2020 jadi tahun inovasi.

Disebutkan, seluruh madrasah se-Indonesia dipersilahkan melakukan sebuah inovasi. Tetapi tetap terkait dengan pemataan kompetensi para siswa.

“Ada isitilah di Diknas adalah kemerdekaan belajar. Sementara inovasi dari Kementerian Agama disebut revolusi pembelajaran,” tuturnya.

Darmawati memaparkan, ada kelas nuzulul Al-quran. Visinya, para peserta didik harus hafal Al-quran saat lulus nanti. Setidaknya 10 juz.

Selain itu, kata dia, ada juga kelas sains. Yakni, mengarahkan para siswa harus mampu memiliki 1 produk penelitian.

Berkenaan itu, sejak kelas 7, mereka mesti diarahkan menemukan sesuatu yang menarik untuk dijadikan bahan penelitian. Terutama yang berkaitan dengan masalah sains (ilmu pengetahuan) agama dan sosial.

“Jadi kelas sains itu adalah mereka peraih nilai tertinggi. Yang kelas nuzulul Al-quran, mereka yang memiliki hafalan Al-quran. Tinggal nnnti di-upgrade,” terang Darmawati.

Lanjut ia mengatakan, di Madrasah saat ini tengah memanfaatkan aplikasi e-learning. Dengan aplikasi tersebut, para guru madrasah se-Indonesia bisa saling berbagi.

Juga ada forum untuk para siswa, forum untuk manejemen madrasah, termasuk dengan pengawas serta forum untuk para alumni yang dilengkapi dengan fasilitas video conference.

“Jadi setiap malam, teman-teman di kurikulum itu berbagi link kepada para siswa. Setiap hari berbeda paparannya. Nah, setelah mereka memberikan paparannya di layar monitor, ada namanya tim Teaching. Yaitu mereka ada yang mengajar dan mengamati anak-anak,” papar Darmawati.

Diakui Darmawati, proses belajar mengajar secara online ataupun dalam jaringan (daring), terkadang juga terganjal sebuah kendala.

“Tentu ada kendalanya. Misal, yang terdata itu ada yang punya 1 handphone (HP), harus digunakan beramai-ramai. Ternyata saya melihat para orang tua di sini kompak, yakni ramai-ramai urunan (menyumbang) membelikan kuota,” akunya.

Ia mengaku, menerapkan sesuatu yang baru itu juga perlu dibarengi dengan evaluasi yang dilakukan setiap saat.

“Untuk hal baru itu awalnyya semua pasti belajar. Termasuk saya, pasti belajar. Anak-anak juga perlu belajar dan beradaptasi,” kata Darmawati.

Ia juga menyatakan, untuk kembali normal seperti sebelum virus korona melanda itu sangat sulit. Namun ia mengaku, ada hikmah yang ia rasakan dengan adanya virus yang bermula dari Wuhan, China itu.

“Kita ambil hikmah terbesar yakni, korona datang, smua sudah siap denga pnguasaan IT. Coba seandainya korona datang misalnya di era 80-an yang belam ada video canggih. Belum ada 4G,” pungkasnya. (fad/dam)

Terkait