Pemerhati Budaya Apresiasi Kehadiran Buku Bilang Taung

STARNEWS.ID, MAKASSAR — Bilang Taung kini telah hadir. Buku karya putra keturunan Bugis-Makassar, Nor Sidin itu berisikan tulisan tentang sistem penanggalan masyarakat Sulawesi Selatan berdasarkan naskah lontara.

Setidaknya, setahun waktu yang dibutuhkan buat Ambo Uphe – sapaaan akrab Nor Sidin melakukan riset hingga Bilang Taung pun diterbitkan. Enam bulan untuk buku pertama di tahun 2019. Lanjut kedua di bulan Maret 2020, juga selama 6 bulan. Rujukannya, menggunakan naskah-naskah lontara.

Rampungnya Buku bilang Taung, tidak lepas dari sentuhan Kepala Jurusan Sastra Unhas, DR Muhlis Hadrawi dan pemerhati sejarah dan budaya Sulsel, Sapri Pamulu P.hD.

“Sangat banyak Tomatoa Malebbiku dan Silesurreng Malebbiku yang memberikan dukungan,” papar Ambo Uphe.

Untuk buku Bilang Taung sendiri baru pertama kali diangkat ke permukaan. Hal ini sebagai upaya untuk menjaga kelestarian budaya lokal Sulawesi Selatan agar tidak punah ditelan masa.

Buku Bilang Taung, sistem penanggalan Masyarakat Bugis Makassar ini baru pertama kali diangkat ke permukaan, sebagai suatu kearifan lokal masyarakat sulawesi selatan yang semakin tergerus zaman.

Buku ini mendapat Apresiasi dari Bapak Gubernur sulawesi selatan yang selama pemerintahannya tetap konsen memperhatikan dan mengangkat adat dan budaya serta kerifan lokal masyarakat sulawesi selatan.

Kabarnya, Buku Bilang Taung bakal dipersembahkan sebagai kado di hari jadi Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2020 ini.

Terkait, pemerhati budaya asal Maros, Boby Boyo II menuturkan, sejatinya leluhur tanah Bugis-Makassar telah mewariskan sesuatu yang besar. Namun pergeseran zaman dengan berbagai dinamikanya telah membuat sebagian masyarakatnya nyaris melupakan warisan tersebut.

Bahkan, kata Boby, untuk menemukan orang Bugis-Makassar yang mampu membaca tulisan-tulisan berhuruf lontara pun kian sulit.

Olehnya itu, ia bersyukur dengan adanya Nor Sidin. Seorang lelaki berdarah bugis yang besar dan tumbuh di tanah rantau, tetapi tidak membuatnya lupa tentang banyak hal yang diwariskan leluhurnya.

“Rantau tidak kemudian mampu menggerus jati diri dan sukmanya (Ambo Uphe) sebagai laki-laki bugis. Tanah rantau justru membuatnya mampu melakukan sesuatu yang bernilai bagi pengembangan kebudayaan bugis dan makassar,” ungkap Boby.

Melalui aku Facebook-nya, Boby mengungkapkan, ada beberapa kelompok masyarakat yang juga memiliki penanggalan sendiri. Salah satunya masyarakat Bugis-Makassar.

Menurut dia, sejak ratusan atau bahkan mungkin ribuan tahun lalu, leluhur masyarakat Bugis-Makassar telah memiliki acuan sendiri untuk dijadikan dasar dalam menjalani hidup.

“Kita memiliki lontara “Pananrang” juga “Kutika” yang berisi catatan tentang hari-hari baik untuk memulai sesuatu. Perkawinan, memulai turun ke sawah, mendirikan rumah, memulai membuat senjata dan lain-lain,” ujarnya.

“Leluhur kita bukan cappo’-cappo’. Leluhur kita bukan kaleng-kaleng. Mereka adalah manusia-manusia bijak yang paham jika alam adalah bentangan ilmu. Mereka tidak sekedar paham jika langit mendung adalah pertanda hujan akan segera turun. Lebih dari itu, mereka paham bahwa hujan hari ini akan membawa berkah atau bencana,” kata dia.

Buku Bilang Taung karya Ambo Uphe pun disebut bukan sebuah upaya yang sederhana. “Penerbitan naskah masa lalu ke dalam sebuah buku membutuhkan keseriusan yang luar biasa,” tegasnya. (fad)

Terkait