Penjaga Sekolah Sodomi Tujuh Anak Dibawah Umur

Ilustrasi (lampungpos.co)

STARNEWS.ID, JAKARTA -Bareskrim Polri bekerjasama dengan The US Immigration and Customs Enforcement (US ICE) berhasil mengungkap jaringan komunitas pedofil anak laki-laki sesama jenis di media sosial Twitter.

Komunitas tersebut disinyalir telah melakukan kekerasan dan mengeksploitasi seksual terhadap anak, karena telah menyasar anak laki-laki sebagai sarana pemuas nafsu untuk dicabuli dan disodomi di lingkungan sekolah.

Bacaan Lainnya

Aksi penyimpangan seksual tersebut direkam dalam bentuk foto dan video untuk disebarkan ke media sosial twitter
dengan member sesama pedofil untuk bertukar koleksi.

Suasana Press Release terkait penangkapan pelaku pencabulan anak yang dilakukan penjaga sekolah. (foto ist)

Penangkapan dilakukan terhadap tersangka PS (44), seorang penjaga sekolah dan pelatih pelajaran ekstrakulikuler pada hari Rabu (12/2/2020) pukul 18.00 WIB, di rumah penjaga sekolah daerah Jawa Timur.

Modus Operandi


Di depan penyidik Bareskrim tersangka mengaku pernah menjadi korban kekerasan seksual (dicabuli dan disodomi) sejak usia 5 – 8 tahun oleh pamannya yang telah meninggal dunia.

Tersangka mulai memiliki penyimpangan seksual karena terstimulasi oleh kebiasaan melihat konten pornografi
anak di twitter

Tersangka sebagai pelatih pramuka, pelatih ekstra kulikuler beladiri dan penjaga sekolah, menjadi sarana kontak menyalurkan hasrat/fantasi dan penyimpangan seksualnya.

Korban dibujuk dengan diberikan uang, minuman keras, rokok, kopi dan akses internet oleh tersangka serta diancam tidak diikutkan dalam kegiatan-kegiatan sekolah yang melibatkan tersangka. Nah, apabila para korban menolak ajakan tersangka untuk dicabuli dan disodomi.

Kini jumlah korban sementara sebanyak 7 anak berumur 6 -15 tahun yang telah dicabuli serta disodomi oleh tersangka sebanyak dua kali atau selama 3 – 8 tahun.

Kekerasan dan eksploitasi seksual dilakukan di lingkungan sekolah (Ruang Unit Kesehatan Sekolah dan Rumah Dinas Penjaga Sekolah) yang direkam oleh tersangka dengan menggunakan handphone milik tersangka kemudian
diupload ke komunitas pedofil di media sosial twitter dengan followers sekitar 350 akun.

Kini akun milik tersangka telah disupend oleh platform dan ditangkap oleh sistem aplikasi yang dikelola oleh The National Center for Missing & Exploited Children
(NCMEC) Cybertipline yang berkedudukan di Amerika Serikat kemudian diteruskan ke kepolisian.

Barang Bukti

Dari tangan tersangka, penyidik menyita 1 1 Handphone berserta 2 SIM card, 1 Memory Card Micro SD merek V-gen 2GB, 2 bantal tidur dan 1 celana pendek warna hitam, 1 kaos dalam laki-laki warna putih. Juga 1 botol minuman merek orang tua
dan 2 gelang tangan berbahan kayu.

Pasal yang Disangkakan

Sejumlah pasal dikenakan untuk tersangka yakni Pasal 82 Ayat (1) jo Pasal 76E, Pasal 88 jo Pasal 76I UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU RI No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 29 jo Pasal 4 Ayat (1) jo Pasal 37 Uu Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, Pasal 45 Ayat (1) jo Pasal 27 aayat (1) UU No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE. Tersangka diancam hukuman pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp6 Miliar. (star2)


Pos terkait