Program DOISP, BBWSPJ Ajak Masyarakat Lestarikan Fungsi Waduk

Fasilitator acara sosialisasi program DOISP-II Waduk Bili-Bili BBWSPJ, Kaharuddin Mudji menyampaikan materi dihadapan peserta di aula kantor Kelurahan Bontoparang, Kecamatan Parangloe, Gowa, Jumat (28/5/2021). Tampak hadir PPK OP SDA III, Asriani,ST (kedua kanan) dan Kasatker OP BBWSPJ, Andi Faisal Fahri (tengah). (Foto : Rusli Haisarni)

STARNEWS.ID,GOWA—-Kelangsungan fungsi waduk menjadi atensi utama Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWSPJ) Ditjen SDA Kementerian PUPR RI.

Fungsi waduk yang sangat besar bagi kehidupan diharapkan terus terjaga. Upaya pelibatan masyarakat pun terus didorong untuk menjaga kelestarian lingkungan waduk.

Bacaan Lainnya

Salah satu program yang kini fokus dilaksanakan pihak BBWSPJ yakni DAM Operational Infrovement And Safety Project Phase-II (DOISP-II).

PPK OP SDA III BBWSPJ, Asriani mengatakan, sejumlah kegiatan mitigasi lingkungan tercakup dalam program DOISP. Seperti penghijauan, serta pengendalian sedimen.

“Jadi kita kerjasama dengan elemen masyarakat dengan melibatkan mereka menjaga lingkungan sekitar waduk. Contohnya dalam kegiatan penanaman pohon. Termasuk pengendalian sedimentasi di waduk,” ujar Asriani disela acara sosialisasi partisipasi masyarakat/community participatory Waduk Bili-Bili, di aula kantor kelurahan Bontoparang, Kecamatan Parangloe, Jumat (28/5/2021).

Acara sosialisasi itu diikuti oleh aparat pemerintah kabupaten Gowa, pemerhati waduk Bili-Bili, Forum Sabo, aktivis lingkungan serta tokoh masyarakat. Juga hadir aparat kepolisian dan TNI.

Kata Asriani, program DOISP ini mencakup empat bendungan. Yaitu Bendungan Bili-Bili, Bendungan Kalola (Wajo), Bendungan Ponre-Ponre dan Bendungan Salomekko. Kedua bendungan terakhir ini berada di Kabupaten Bone.

“Tahap pertama ini sosialisasi. Selanjutnya akan ada MOu dengan kelompok masyarakat (Pokmas),” sebut Asriani.

Kasatker OP BBWSPJ, Andi Faisal Fahri menjelaskan, program DOISP-II ini memang berfokus pada migitasi lingkungan waduk.

Khusus untuk Bendungan Bili-Bili, akan dilakukan penanaman pohon mulai dari hulu hingga hilir. Rencananya ribuan pohon akan ditanam. Jenis pohonnya beraneka ragam.

“Kebanyakan pohon produktif,” ucapnya.

Sejumlah narasumber diundang membawakan materi di acara tersebut. Antara lain Kaharuddin Mudji sekaligus fasilitator kegiatan. Narasumber lainnya Prof Dr Agnes Rampisela.

Sementara itu, tokoh masyarakat Kecamatan Parangloe, H Muh Saleh Saud mengatakan, masalah tata ruang menjadi persoalan pelik di sekitar lingkungan waduk Bili-Bili.

Untuk itu, bekas Camat Parangloe ini berharap tata ruang diperjelas sehingga masyarakat bisa mengetahui batas aturan melakukan kegiatan di dalam area Waduk Bili-Bili.

“Tata ruang ini perlu diatur oleh pihak Balai Pompengan. Supaya ada patron kedepan sehingga masyarakat tahu bahwa zona atau titik ini tidak boleh ada kegiatan apapun. Intinya bagaimana waduk Bili-Bili bisa dimanfaatkan masyarakat tanpa melakukan pelanggaran-pelanggaran,” tandas Saleh Saud. (rus)


Pos terkait