Sebelum Bunuh Diri, MI Kerap Mimpi Aneh

Penyidik Sat Reskrim Polres Gowa memeriksa sejumlah saksi terkait siswi SMA Negeri 18 Gowa yang bunuh diri dengan menenggak racun rumput, Rabu (21/10/2020).

STARNEWS.ID, GOWA — Hingga kini, motif bunuh diri siswi SMA Negeri 18 Gowa, MI (16) masih misteri. Polisi pun terus menelusuri kematian siswi yang nekat menenggak racun rumput.

Terkait, kerabat dekat MI, Syahrir yang juga Sekretaris Camat (Sekcam) Parigi mengungkapkan, sebelum bunuh diri, MI pernah bercerita bahwa dirinya kerap mimpi aneh. MI mengaku bermimpi dimandikan di atas keranda mayat.

“Dia cerita begitu. Mimpi dimandikan di atas keranda mayat. Bahkan pernah dia tengah malam bangun dan berteriak ketakutan dan lari keluar dari kamarnya,” ungkap Syahrir, Rabu (21/10/2020).

Perihal mimpi aneh MI, lanjut Syahrir, telah dia sampaikan ke aparat kepolisian. Termasuk soal keluhan penyakit maag yang dialami MI.

“Jika sakit maagnya kambuh, MI biasanya lampiaskan dengan menangis. Sembuh sakitnya kalau menangis,” tutur Syahrir.

Semua keluhan MI itu pun telah disampaikan Syahrir kepada aparat kepolisian. Penyampaian itu bersamaan dengan diserahkannnya handphone almarhumah.

“Jadi ada tiga poin keluhan MI yang saya sampaikan ke polisi. Tapi justru yang berkembang seolah-seolah MI depresi karena terbebani tugas pembelajaran online. Juga soal jaringan. Padahal di Desa Bilalang, jaringan bagus,” terangnya.

Semasa hidupnya, lanjut Syahrir, MI memang pendiam. Meski demikian, dari segi akademik, MI tergolong pintar. Siswi Kelas XI IPA2 itu, sebut Syahrir pernah beberapa kali ikut lomba bidang studi mewakili sekolahnya.

“Setiap pekan juga kami sekeluarga senantiasa mengajaknya liburan bersama-bersama,” sebut Syahrir.

Syahril pun sangat menyayangkan isu yang berkembang bahwa kemenakannya itu bunuh diri karena depresi akibat beban tugas pembelajaran online.

Diakui Syahrir, MI memang pernah mengeluh soal tugas pembelajaran di sekolah yang tertunda. Keluhan MI itu disampaikan kepada anaknya, Ainun. Kebetulan MI dan Ainun memang sangat dekat. Apalagi MI adalah ponakan langsung dari isteri Syahrir.

“Tapi kalau soal pembelajaran online itu menjadi penyebab depresi, kami kira tidak begitu. Apalagi secara umum, teman-temannya yang lain juga mengeluh sama. Termasuk anak saya, Ainun,” tutur Syahrir.

Eks Lurah Lanna itu pun mempercayakan kepada aparat kepolisian untuk mengungkap apa motif sebenarnya sehingga MI nekat bunuh diri. “Atas nama keluarga, kami mempercayakan sepenuhnya kepada aparat kepolisian,” tutur Syahrir.

Sat Reskrim Polres Gowa terus melakukan penyelidikan. Kasat Reskrim Polres Gowa AKP Jufri Natsir bersama anggotanya, Selasa, 20 Oktober 2020 kembali menyambangi rumah korban di Dusun Bontote’ne, Desa Bilalang, Kecamatan Manuju untuk melakukan olah TKP ulang.

“Betul, kemarin (Selasa, 20 Oktober, red) kami berkunjung ke rumah korban. Bertemu dengan kedua orang tua korban serta pemerintah setempat. Termasuk kepala sekolahnya. Tujuannya melakukan olah TKP kembali untuk mencari fakta lain dan motif sebenarnya tewasnya korban,” beber Jufri Natsir, Rabu, 21/10/2020.

Dari hasil olah TKP ulang itu, pihaknya merencanakan kembali memanggil beberapa orang untuk dimintai keterangan. Sebelumnya, sudah ada lima orang saksi yang diperiksa. Mereka, kata Jufri merupakan kerabat dan teman korban.

Selain pemeriksaan sejumlah saksi, polisi juga akan mendalami isi handphone korban. Diharapkan, disitu bisa menjadi petunjuk untuk mengungkap motif sebenarnya.

“Sampai saat ini kita masih mengumpulkan keterangan keterangan lain untuk memastikan motif sebenarnya. Termasuk seluler milik korban akan kami dalami periksa,” terang Jufri. (rus/dam)

Pos terkait