Setahun Pak Iqbal Jadi Wali Kota (Sebuah Catatan Kritis)

Iqbal Samad Suhaeb, Pj Wali Kota Makassar 13 Mei 2019 - 13 Mei 2020. (foto humasmakassar)

Oleh : M. Ridha Rasyid/Praktisi dan Pemerhati Pemerintahan

HARI INI, Rabu 13 Mei 2020 setahun sudah masa pengabdian Iqbal Samad Suhaeb menahkodai Makassar. Mungkin orang bisa mengatakan bawa kurun waktu satu tahun adalah waktu yang relatif singkat untuk mengukur suatu keberhasilan atau kegagalan dari capaian kinerja yang sebelumnya telah dipaparkan dihadapan tim seleksi. Juga, adalah kewenangan Gubernur dan Menteri Dalam Negeri menilainya. Itu dari sisi birokrasi pemerintahan. Dari sisi masyarakat tentunya punya penilaian sendiri dari ukuran yang dirasakan dan dilihat.

Bacaan Lainnya

Apapun itu, Pak Iqbal telah melalui suatu kepemimpinan dalam rentang waktu yang cukup untuk berbuat. Bekerja dengan koridor upaya untuk mewujudkan “cita”, saya tidak ingin mengatakan bahwa Run Makassar adalah visi. Oleh karena tidak memenuhi unsur untuk dikategorikan sebagai visi. Bahwa itu merupakan cita atau kehendak untuk melakukan sesuatu yang kemudian dijadikan parameter.

Mengapa Run Makassar tidak masuk kategori visi, pertama dari sisi bahasa, visi harus bermuatan ke-Indonesiaan, kedua visi itu adalah mimpi, ilusi yang ingin diwujudkan dalam kurun waktu periodisasi kepemimpinan, ketiga, bahwa itu merupakan kata pernyataan bukan sesuatu yang menghimpun dan mengelaborasi daerah/wilayah yang dikelola, keempat, tidak mengacu pada suatu rencana pembangunan jangka panjang dan menengah daerah. Serta tidak memenuhi anasir menerjemahkan visi Gubernur Sulawesi Selatan 2018-2023.

Olehnya itu, Run Makassar dalam perjalanan singkat itu hanya sekedar “penghias” dari suatu pedoman untuk memenej pemerintahan, yang lalu tidak bisa dievaluasi gagal dan keberhasilannya. Dan, memang kepemimpinan yang singkat bukanlah area untuk mengukur. Tapi hanya sekedar pemenuhan tugas sampai masa berlaku surat keputusan itu. Lagi pula pejabat, pelaksana tugas, pelaksana harian, merupakan masa tentatif yang tidak perlu diukur secara “njlimet”

Pengabdian Yang Tulus

Saya tahu, Pak Iqbal adalah birokrat tulen. Tidak punya tendensi lain, selain penghayatan sebagai aparatur yang mengabdi pada pemerintahan. Tidak punya ambisi berlebihan untuk sesuatu yang ” berbeda “. Pak Iqbal tidak punya kecenderungan untuk melakukan abuse of power, bahkan tidak punya “tujuan” yang jelas terhadap apa yang beliau harapkan dari sebuah cita Run Makassar itu.

Bahwa ada sejumlah misi yang melatar-belakang visi itu, namun hanya di atas kertas. Suasana bathin yang ada dijajaran pemerintah kota Makassar yang ambivalen (masih adanya aparatur yang lebih mengharapkan kembalinya mantan walikota untuk memimpin kota Makassar) menjadi kendala terbesar yang tidak bisa dipungkiri. Pengaruhnya masih besar dihadapan sejumlah kepala satuan kerja perangkat daerah. Terlebih dengan adanya tragedi pemerintahan terbesar yang pernah ada dalam sejarah kepegawaian Indonesia, yaitu reposisi jabatan dari sejumlah sk yang dibatalkan, juga sangat mempengaruhi kinerja aparatur untuk mengawal dan melaksanakan program yang dibuat Pak Iqbal, pada saat yang sama, DPRD kota Makassar yang merupakan lembaga politik punya warna berbeda terhadap keberadaan Pak Iqbal memimpin kota Makassar.

Namun, apapun itu, karena beliau menyadari suasana bathin itu, hingga lebih banyak mengikuti acara seremoni yang sejatinya bisa didelegasikan. Saya tidak menyalahkan Pak Iqbal yang tidak fokus pada usaha untuk mencapai citanya Run Makassar, karena sangat sulit bagi beliau mengendalikan aparat dibawahnya dalam artian bagaiman mereka menerjemahkan dalam program, kebijakan ataupun kegiatan seperti terdeskripsikan dalam Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah 2020.

Lagi lagi, saya menilai bahwa Pak Iqbal tidak dalam ranah untuk menjembatani perbedaan yang muncul. Karena baginya kerja ikhlas, total dan tulus, itu yang lebih utama dibandingkan “gonjang-ganjing politik” yang berseliweran disekitarnya. Sangat sedikit orang yang mau bekerja ikhlas (tanpa pamrih, tanpa ada keinginan untuk “menilap” keuangan apatahlagi meminta jatah dari masing masing SKPD) , berusaha untuk bisa hadir di tengah masyarakat.

Makanya, beliau selalu menyediakan waktu untuk masyarakat di berbagai kegiatan yang selalu dihadirinya. Bekerja di kecamatan adalah salah satu terobosan pengabdian tulis itu. Mau melihat langsung pelayanan yang diberikan kepada masyarakat oleh aparat di tingkat kecamatan, kelurahan dan puskesmas. Rela berjibaku di tengah hujan lebat dan berjalan di atas lumpur kanal yang penuh sedimentasi. Baginya, bekerja bukan sekedar kata kata dan pencitraan. Tapi turun langsung ke lapangan.

Pak Iqbal juga yang mendorong kerja keras sejumlah skpd yang berurusan dengan pendapatan asli daerah. Makanya, menurut ukuran saya, puncak keberhasilan Pak Iqbal memimpin kota Makassar ada pada peningkatan PAD yang kemudian di wujudkan dalam bentuk pemberian tunjangan penghasilan pegawai, serta alokasi anggaran pelayanan publik yang lebih baik.

Beberapa Catatan

Mungkin tidaklah salah jika pada kesempatan ini, saya ingin memberikan beberapa catatan selama kurun waktu satu tahun, dan terutama pada penanganan pandemi covid19 yang banyak menimbulkan masalah, terkhusus pada distribusi bansos.

Kita mulai pada peristiwa reposisi jabatan yang merupakan titik nadir pergulatan statuta kepegawaian yang memprihatinkan. Namun sejarah membuktikan bahwa suatu kesalahan administratif telah dapat diperbaiki. Selain dukungan kuat gubernur, berkat perjuangan para ASN pemkot Makassar khususnya Ibu Sittiara, Jamaing, Ashari dan sejumlah nama lain, telah merubah paradigma bahwa tidak semua keputusan pimpinan itu benar. Ini menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan Pak Iqbal memimpin Kota Makassar.

Dan yang terakhir adalah kesungguhannya memimpin gugus tugas penanganan pandemi covid19, berkutat mulai pagi hingga malam memonitoring dan terjun langsung ke semua sudut kota demi mengendalikan dan mencegah penularan virus ini. Walaupun terdapat kelemahan dan kekurangan, tentu saja terjadi. Tetapi paling tidak hingga hari ini, Pak Iqbal selalu menunjukkan keikhlasan bekerja. Ketulusan sebuah pengabdian tiada henti.

Selamat jalan Pak Iqbal, Pj Walikota Makassar periode 13 Mei 1999- 13 Mei 2020. Pengabdian yang tulus akan selalu dikenang masyarakat Kota Makassar dan seluruh aparatur pemerintah kota, diakui atau tidak oleh siapapun, bahwa bapak telah memperlihatkan serta mencontohkan bakti yang tulus, ikhlas dan jujur. Semoga sukses selalu menyertai di manapun pimpinan menempatkan bapak kelak. Amiin
Wallahu ‘alam bisshawab. (/*)

Terkait