Soal Dugaan Penyerobotan Green Belt, Kepala BBWSPJ Ancam Polisikan Oknum Terkait

Dua orang warga tampak melintasi area green belt di lokasi Arboretum 2 yang telah dipagari kawat di Kelurahan Lanna, Kecamatan Parangloe, Gowa, Kamis (5/11/2020).

STARNEWS.ID GOWA — Dugaan penyerobotan lahan green belt (jalur hijau) Waduk Bili-Bili, Gowa menjadi atensi Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWSPJ). Investigasi segera dilakukan.

Kepala BBWSPJ, Adenan Rasyid mengatakan, pihaknya segera turun melakukan pengecekan langsung lapangan. Selain menelusuri dugaan penyerobotan oleh segelintir oknum warga, juga terkait adanya indikasi penjualan lahan green belt.

“Kalau diperjualbelikan saya belum dapat informasi. Tapi akan kita cek lapangan,” ujar Adenan Rasyid kepada wartawan via WhatsApp, Kamis (5/11/2020).

Kabarnya, beberapa warga mengklaim memiliki lahan di area green belt setelah membayar seharga Rp2 juta per kaveling.

Terkait hal itu, BBWSPJ pun akan bersikap tegas. Jika memang dari hasil penelusuran ditemukan ada tindak pidana, maka tindak tegas pun akan dilakukan.

Siapapun oknum yang melakukan penyerobotan apalagi memperjualbelikan lahan negara di green belt bakal dilaporkan ke aparat penegak hukum (APH).

“Tentu kita akan lapor ke APH bila terbukti adanya tindak pidana. Seperti kasus penambangan liar di DAS (Daerah Aliran Sungai) Jeneberang, kita sudah lapor resmi ke kepolisian. Dalam hal ini Polda Sulsel,” tegasnya.

Selain siap melapor ke aparat penegak hukum, BBWSPJ saat ini juga sudah melakukan sterilisasi lahan green belt. Sebagian lahan green belt di Arboretum 2, Kelurahan Lanna, Kecamatan Parangloe telah dipagari.

“Ada 15 hektare lahan yang masuk kawasan green belt telah dipasangi pagar kawat,” ujar pengelola green belt, Fauziah.

Langkah sterilisasi ini, sebagai bentuk pengamanan sekaligus peringatan bagi oknum warga agar tidak lagi melakukan aktivitas apapun di area greenbelt. Apalagi sampai mengklaim dan mendirikan bangunan permanen di area greenbelt.

“Kita akan melakukan kegiatan penanaman di lahan greenbelt Arboterum 2,” pungkas Fauziah. (rus/dam)


Pos terkait