Strategi Penanganan COVID 19 pada Rumah Sakit Zona Merah

oleh : Kombes Pol dr Farid Amansyah SpPD, FINASIM/ Karumkit Bhayangkara Makassar

SEIRING dengan bertambahnya pasien ODP, PDP dan konfirmasi covid19 Positif maka sebaiknya seluruh rumah sakit memberlakukan skrining yang ketat terhadap semua pasien opname atau rawat jalan di rumah sakit. Skrining ini didahului sebelumnya dengan menetapkan area covid dan non covid sesuai Rumah Sakit masing masing.

Bacaan Lainnya

Hal ini sangat penting dilakukan untuk menghindari Rumah Sakit menjadi sumber penularan, dan sekaligus melindungi tenaga kerja yang ada di rumah sakit. Selanjutnya jangan melakukan opname pasien sebelum melaksanakan screening ketat sebagai berikut:

Skrining yang pertama adalah untuk semua pasien rawat inap maka harus dilakukan pemeriksaan foto thorax dan apabila hasil pemeriksaan foto toraks dinyatakan Pneumonia, maka sebaiknya dianggap saja viral pneumoni sebagai konsekwensi dari keadaan pandemi global. Sepanjang penyebab lain tidak dapat dibuktikan.

Dengan hasil pneumonia ini, maka pasien sudah bisa dianggap pasien PDP yang selanjutnya ke perawatan khusus/ isolasi. Bila foto toraks Normal atau meragukan maka laksanakanlah langkah kedua yaitu pemeriksaan CT Scan thorax karena kelainan minimal GGO sudah bisa terlihat sejak hari 1 sampai 4 hari dari infeksi/gejala.
Sebuah studi di cina yg dilakukan untuk melihat hubungan korelasi positif antara temuan CT dada dan kondisi klinis pneumonia Covid-19.

Dalam studi tersebut ditetapkan, sebagian besar pasien dengan Covid-19 pneumonia memiliki tingkat kekeruhan Ground-glass opacities (GGO) sebesar 86,1 persen.
Atau GGO campuran dan konsolidasi sebesar 64,4 persen, serta pembesaran vaskular dalam lesi sebesar 71,3 persen.

Ground-glass opacities (GGO) yakni area dengan peningkatan pelemahan dalam paru. Penelitian ini dipublikasikan dalam American Journal of Roentgenology (AJR). Jadi lakukan CT scan thoraks jauh lebih bermakna pada hari hari pertama infeksi dibanding dengan pemeriksaan Rapid test bahkan lebih sensitif dan spesifik dibanding dengan swab.

Rapid test dapat dilakukan, namun hanya bermakna bila pemeriksaannya dilakukan setelah hari 7 infeksi. Makanya banyak pasien dengan Rapid test negatif namun kemudian menjadi positif di pemeriksaan PCR swabnya. Ini yang disebut negatif palsu ( pseudo negative) dan banyak terjadi pada pasien covid sehingga pemeriksaan Rapid tidak dijadikan sebagai Gold Standard diagnosis Covid .

Pemeriksaaan PCR ( polymerase chain reaction) juga memiliki kelemahan antara lain proses pengambilan tidak tepat waktu dan lokasi pengambilan sampel, medium transfer yang tidak memenuhi syarat, dan pada infeksi infeksi awal virus belum banyak pada daerah nasopharynx, sehingga dapat hasil negatif pada keadaan keadaan ini.

Bagaimana dengan anamnese dan riwayat kontak ? Atau bepergian ?. Kalau suatu daerah masih di kategorikan zone kuning atau hijau bolehlah menanyakan ini, namun untuk daerah-daerah yang dinyatakan zone merah atau transmisi lokal maka keterangan itu tidak diperlukan lagi karena semua orang sudah dianggap pernah kontak atau transmisi dari orang ke orang.

Bagaimana dengan tindakan yang akan dilakukan, untuk amannya sebelum melakukan tindakan elektif baik untuk operasi maupun tindakan lainnya pastikan pasien bukan covid dengan jalan ct scan thoraks, dan Rapid test. Paling baik lagi ada hasil swab sebelum dilakukan tindakan.

Juga hal yang terpenting adalah memberikan diet yg berkualitas pada pasien pasien yang terduga covid. Berikan ekstra buah buahan, ekstra protein nabati dan hewani dengan taste yang menggugah selera, agar menunjang terbentuknya immunitas penderita covid.
Untuk pasien rawat jalan sebaiknya seleksi juga di pintu masuk.

Pasien dengan demam dan batuk di persilahkan ke tenda darurat yg dibuat khusus sebagai posko covid dan dilaksanakan pemeriksaan lengkap fisis lab : panel demam, foto thoraks dan bila masih normal dgn CT scan thoraks.

Intinya jangan underestimate. Di daerah zone merah kita anggap perlakukan pasien apapun sebagai plus pasien covid sampai terbukti tidak covid.

Dengan langkah-langkah seperti ini, insya Allah nakes rumah sakit terlindungi apalagi kita wajibkan pemakaian apdnya sesuai severity levelnya.

Bagaimana strategi kedepan dalam upaya mengeleminasi Covid19 dgn cepat ? Strategi yg saya tawarkan adalah

  1. Pada daerah zone merah, adalah menjaring sebanyak mungkin PDP dgn Ct scan dan foto thoraks, serta menjaring sebanyak mungkin Covid Positif dgn swab. Hal ini bisa dilakukan dgn target prioritas semua pengunjung rumah sakit. Kenapa rs ? Krn rumah sakitlah target yg sakit itu berkumpul. Setelah itu dilakukan Isolasi ketat pasien dgn kriteria pdp dan konfirmasi positif tersebut di rumah sakit. Rumah sakit harus menyiapkan separuh dari kapasitas ruangan untuk dilakukan isolasi ketat satu ruangan satu orang. Tidak boleh rawat gabung, krn bisa saling transmisi. Ini harus komitmen besar semua direktur rs. lakukan dgn ketat PSBB skala besar agar di hulu transmisi dari man to man berkurang. Kalaupun ada kegiatan pada perberlakuan PSBB harus disiapkan saran cuci tangan dgn sabun dan air yg mengalir. Tetap lakukan physical distancing dan stay at home.
    Penduduk dari zobe merah tidak diperkenankan melewati batas zone merah sebelum ada lisensi garansi kesehatan
  2. Untuk zone kuning dan hijau lakukan screening di pintu2 masuk kota bagi pengunjung baru terutama dari zone merah. Pastikan tujuan dan asalnya. Dan lakukan isolasi mandiri di alamat tujuan selama 14 hari. Pantau shg bisa dilakukan tracing bila terjadi hal2 yg berkembang. Namun kewaspadaan universal tetap dilakukan pada zone kuning dan hijau yaitu cuci tangan dgn sabun dan air yg mengalir. Tetap lakukan physical distancing dan stay at home.
    Pandemi ini bisa cepat atau tidak tergantung keputusan strategis yg diambil dan perbelakuannya dengan ketat dan masyarakat harus ikhlas berpartisipasi. Krn kalau tidak keadaan yg tidak menyenangkan ini dapat berlarut larut dan semakin menelan banyak korban.
    Immunitas massal masyarakat juga harus diperkuat dgn selalu memberikan nasehat2 sosial dan informasi2 yg benar serta menyejukkan. Nasehat2 spiritual dari para ulama dan tokoh agama, Himbauan dari tokoh2 masyarakat dan insan pers tentunya sangat membantu masyarakat melewati masa masa krisis ini.
    Sunnatullah kita berada dimasa pandemi global dan dilakukan physical distancing, dan stay at home, agar secara virus tidak mendapat inang baru yg baru. Karena secara sunnatullah Covid 19 ini sbg mahluk hidup pun ingin eksis dan mempertahankan diri dgn mencari inang tempat hidup yg baru yaitu manusia. Itulah sebabnya kenapa mesti kita lakukan social/physical distancing dan stay at home agar tidak terjadi perpindahan ke inang yg baru.

Namun dari itu semua, Jangan lupa berdoa, Bismillahi ladzi laa yadhurru maasmihii syaiun fil ardh walaa fissamai wahuwa samiul alim. Karena sesungguhnya semua ini adalah ujian dari Allah SWT. Wassalam (*)

Terkait