Tembus Pasar Baru, Sulsel Ekspor Cabe Kering ke Pakistan

Menteri Pertanian memeriksa ekspor cabe kering Sulsel ke Pakistan. (foto ist)

STARNEWS.ID, MAKASSAR – Sebanyak 21 ton cabe kering asal Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) kembali berhasil menembus pasar baru di Pakistan. Setelah sebelumnya dari data lalu lintas ekspor pertanian di Karantina Pertanian Makassar tercatat hingga Oktober 2020 sebanyak 23 ton cabe kering dengan tiga kali pengirimkan telah diekspor ke Jepang.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengapresiasi pelaku usaha agribisnis asal Sulsel, PT Ramsu Navigasi Nusantara dengan melepas langsung ekspor komoditas pertanian ini.

Bacaan Lainnya

“Bukan soal nilai atau jumlah, tapi keberhasilan ekspor produk pertanian ini membuat bangga seluruh insan pertanian. Saya mengapresiasi” kata pria yang telah dua kali menjabat sebagai Gubernur di Provinsi Sulsel ini.

Mentan SYL juga menyebutkan rasa bangga dan terima kasihnya atas kerja keras seluruh petani, pelaku usaha dan jajaran pimpinan daerah yang telah bersama-sama menyukseskan program pembangunan pertanian yang dipimpinnya.

Melansir dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Oktober 2002, nilai ekspor pertanian masih tetap meraih pertumbuhan positif sebesar USD 0,42 miliar atau tumbuh 1,26 persen (m to m) jika dibandingkan bulan sebelumnya.
Dan jika dibandingkan tahun sebelumnya, kinerja ekspor pertanian mencatat pertumbuhan 23,80 (y o y).

Memenuhi kebutuhan pangan 267 juta rakyat Indonesia, meningkatkan Nilai Tukar Petani dan bahkan juga dapat memenuhi pasar ekspor di luar negeri di masa pandemi, tidak saja kerja keras tapi kerja tulus dari seluruh jajaran insan pertanian, tambah Mentan SYL lagi.

Hilirisasi Produk Pertanian

Direktur PT Ramsu Navigasi Nusantara, Ramlah Lamusu saat memberikan keterangan pada pelepasan ekspor di halaman kantor Balai Besar Karantina Pertanian Makassar (22/11/2020) menyampaikan bahwa komoditas miliknya berupa cabe telah diolah setengah jadi yakni berupa cabe kering. Dinegara tujuan Pakistan akan digunakan sebagai bahan industri berupa pewarna tekstil.

Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil yang turut hadir dan mendampingi Mentan menyebutkan bahwa hilirisasi produk pertanian menjadi salah satu fokus upaya peningkatan ekspor pertanian. “Karena produk pertanian segar yang tidak tahan lama atau bersifat perishable maka hilirasasi tidak saja memberi nilai tambah namun juga menjamin keberterimaan produk di negara tujuan, karena tidak mudah rusak dan mutu terjaga,” kata Jamil.

Selain ekspor cabe kering, Menteri Pertanian juga melepas komoditas pertanian asal sub sektor perkebunan, tanaman pangan dan hortikultura antara lain mede baik berupa biji, kulit dan cangkang, kelapa parut, karet, porang, cincau hitam, pisang, ,manggis hingga kencur dengan total 114,1 ton senilai Rp. 21,3 milyar. Adapun tujuan negara masing-masing di benua Asia dan Eropa.

Dari data lalu lintas ekspor pertanian di Karantina Pertanian Makassar tercatat pertumbuhan negara tujuan yang meningkat sebesar 8% yakni 133 negara tujuan ekspor di tahun 2019 dibandingkan 143 negara tujuan hingga Oktober 2020 atau bertambah 10 negara tujuan baru. Antara lain Belarus dan Thailand untuk Kacang Mede. India, Cina, Malaysia dan Pakistan untuk Kelapa dan turunannya seperti kelapa parut, daging kelapa dan santan.

Demikian juga jumlah pelaku usaha yang meningkat sebanyak 9% yakni 335 pelaku usaha hingga Oktober 2020 dibandingkan tahun 2019 yang hanya tercatat 307 pelaku usaha saja.

“Selaku koordinator gugus tugas peningkatan ekspor pertanian, kami akan terus mendorong tumbuhnya pelaku usaha dengan membuka akses informasi peluang ekspor pertanian seluas-luasnya,” tukas Jamil. (*/uba)

 

Pos terkait