Terkesan Arogan, Tim Hukum Dilan Sebut Petugas Panwascam Bontoala Tak Paham Aturan

STARNEWS.ID, MAKASSAR — Agenda pasangan Syamsu Rizal (Deng Ical) dan Fadli Ananda untuk bersilaturahmi dengan masyarakat di Kecamatan Bontoala terganggu. Lantaran hendak dibubarkan oleh pihak Panwascam setempat.

Padahal, diakui pihak Deng Ical-Fadli Ananda atau familier dengan sebutan Dilan itu, kegiatan pada Sabtu (3/10/2020) tersebut dilakukan sesuai zona kampanye dan mematuhi protokol kesehatan (Prokes).

Bacaan Lainnya

Atas perlakuan yang tak mengenakkan itu, Tim hukum pasangan nomor urut 3 di Pilwalkot 2020 Makassar itu pun mendesak Bawaslu Makassar untuk menindaki secara tegas Panwascam Bontoala berinisial AAF itu.

Ketua Tim Hukum Dilan, Yusuf Laoh mengatakan, pihaknya sedang mengkaji terkait langkah lanjutan atas aduan tim pemenangan yang mendapatkan perlakuan kurang pantas dari Panwascam Bontoala.

Dikatakan, petugas Panwascam yang bersangkutan tidak memahami aturan. Sejumlah alat bukti yang menunjukkan sikap arogan dan cenderung berpihak oleh petugas Pa


nwascam itu pun tengah disiapkan tim Dilan.

“Langkah awal, kami mendesak Bawaslu Makassar menindak tegas bawahannya, yakni Panwascam Bontoala yang bertindak arogan dan cenderung berpihak. Kami sudah menerima bukti rekaman video, bukti surat dan akan melengkapi kronologisnya,” ucap Yusuf, Minggu (4/10/2020).

Diceritakan, insiden tak menyenangkan itu terjadi Sabtu (3/10/2020). Tepatnya di wilayah RT 04/RW 02 Kelurahan Parang Layang, Kecamatan Bontoala. Saat itu, istri Deng Ical, Mellia Fersini tengah bersilaturahmi dengan warga.

Mendadak, AAF selaku petugas Panwascam Bontoala dan dua orang temannya datang sambil berteriak-teriak  meminta agar agenda Dilan yang dijalankan Imel – sapaan akrab Mellia Fersini dibubarkan.

Disebutkan, kegiatan Dilan itu tak mempunyai surat izin dan tak ada penyampaian dari Polsek Bontoala. Liaison Officer (LO) Dilan yang berada di lokasi kegiatan saat itu pun menyimak.

Pihak tim Dilan pun berusaha menjelaskan bahwa lokasi acara sesuai dengan zona kampanye pasangan doktor dan dokter itu. Kegiatan itu juga didampingi anggota Satuan Intelkam Polres Pelabuhan yang menaungi Polsek Bontoala.

Namun, menurut Yusuf, AAF tetap berkeras hati dan tidak percaya dengan keberaan polisi yang mendampingi. Nanti setelah anggota Satuan Intelkam Polres Pelabuhan tersebut memperlihatkan KTA, barulah petugas Panwascam yang bwrsangkutan tak bisa berkutik. Ia pun meminta maaf.

Menurut Yusuf, tindakan yang dilakukan Panwascam Bontoala jelas merugikan Dilan, karena agenda kegiatannya terganggu. Padahal, di kelurahan dan hari yang sama, pihaknya menggelar kegiatan serupa dengan lancar dan aman. Tepatnya sebelum insiden di RT 05/RW 04 itu. Juga ada petugas yang mengawasi dan mendokumentasikan kegiatan.

Penanggung jawab Divisi DKPP/Bawaslu/KPU dari Dilan, Muhammad Nursalam, menambahkan apa yang dilakukan petugas Panwascam Bontoala bukan sebatas arogansi dan kecenderungan berpihak. Dari kejadian kemarin, kelihatan bahwa petugas panwascam setempat tak paham aturan.

Kata Nursalam, petugas panwascam tidak boleh asal membubarkan agenda paslon, terlebih jika dilakukan sesuai zona kampanye dan mematuhi protokol kesehatan. Bila pun ada pelanggaran harusnya didahului dengan teguran. Langkah Panwascam Bontoala yang sangat reaktif dan ingin langsung membubarkan agenda Dilan malah menimbulkan asumsi dugaan keberpihakan.

“Tindakan Panwascam Bontoala yang tidak memberikan teguran tertulis terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan jelas melanggar PKPU 13/2020, khususnya Pasal 88b bahwa sebelum melakukan tindakan pembubaran wajib didahului peringatan tertulis,” tegasnya. (dam)


Pos terkait